Kamis, 24 Juni 2021

BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH

BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH

Mempelajari komunikasi lintas budaya adalah wajib karena itu merupakan tiket untuk kita agar mampu beradaptasi di manapun kita berada, terutama di Indonesia di mana berbagai suku dan budaya hidup berdampingan. Konflik berkepanjangan dapat terjadi jika seseorang tidak memahami perbedaan-perbedaan yang ada dan tidak melakukan melakukan apapun untuk komunikasi lintas budaya.

Dengan mempelajari komunikasi lintas budaya, seseorang bisa memahami perbedaan dengan bersikap netral atau moderat. Sehingga konflik yang timbul antar budaya etnis yang berbeda tidak akan terjadi. Lebih lanjut, mempelajari komunikasi lintas budaya dapat membuat kita lebih berhati-hati dalam membangun hubungan dengan budaya lain. Para pendakwah harus memahami tempat, budaya, kebiasaan dan bahasa objek dakwahnya karena hal tersebut menentukan kesuksesan dakwah yang dilakukannya.

A.    DAKWAH ANTAR BUDAYA

Dalam dakwah, unsur dakwah meliputi dai, mad’u, metode, materi, media. Dan dalam komunikasi, unsurnya dalah komunikator, komunikan, pesan, media, dan efek. Keduanya hampir sama maknanya, hanya saja dalam unsur dakwah, efek tidak dicantumkan. Namun pasti setiap komunikasi baik dilakukan dengan kemasan dakwah, akan tetap meberikan efek tersendiri. Seorang da’i, dituntut untuk bisa menyampaikan materi kepada mad’u secara gamblang dan dapat diterima oleh mad’u, ini merupakan keharusan. Karena seorang da’i dianggap berhasil apabila ia telah mampu memahamkan mad’u-nya. Dalam komunikasi, hal ini disebut komunikasi efektif. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, seorang dai harus bisa memahami kondisi mad’u. Di sinilah letak pentingnya komunikasi lintas budaya, karena dengan memahami budaya yang ada, maka dakwah dapat dilaksanakan dengan baik.[1]

Salah satu metode yang digunakan dalam berdakwah adalah dakwah bil hikmah, dakwah bil hikmah dilakukan dengan cara yang arif dan bijaksana, yaitu melalui pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan, mapun konflik. Inilah yang bisa diterapkan dalam konsep dakwah lintas budaya.

Dakwah antar budaya merupakan proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar da’i (subjek dakwah) dan mad’u (objek dakwah), dan keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat antar budaya, agar pesan dakwah dapat tersampaikan, dengan tetap terpeliharanya situasi damai (Aripudin, 2012. 25).[2]

Dakwah antar budaya merupakan kajian proses berdakwah mengajak seorang manusia untuk menyampaikan pesan-pesan agama Islam dan perilaku Islami sesuai dengan konsep budaya yang berkembang di masyarakat. Hakikat dakwah antar budaya itu bagaimana kita dalam berdakwah, menggunakan budaya sebagai materi, metode, alat, dan strategi sesuai dengan kondisi budaya sasaran dakwah (mad’u). Karena setiap orang, setiap tempat wilayah dan lingkungan mempunyai kondisi sosial budaya yang berbeda-beda. Maka dalam pendekatannya pun berbeda pula.

B.     TEORI DAKWAH ANTARBUDAYA

Dakwah merupakan sebuah proses transformasi nilai-nilai ajaran Islam kedalam masyarakat, oleh karena itu dakwah tidak akan pernah berhenti untuk berinteraksi dengan budaya dari masyarakat itu sendiri. Terdapat konsep dakwah yang mengedepankan cara-cara simpatik, bijaksana dan lebih humanis (Pimay, 2005. 45).

Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kini telah diwarnai oleh mobilitas sosial yang sangat tinggi. Terjadi akulturasi (percampuran budaya) dan transkulturasi (tarik menarik antar budaya), sejalan dengan kemajuan tekonologi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan yang spektakuler adalah pada teknologi komunikasi, yang kemudian sangat mempengaruhi pola dakwah masa kini. Secara tematik, ada beberapa jenis kegiatan dakwah di masyarakat. Sebagian adalah pendalaman pengetahuan agama yang dilakukan secara rutin dan terjadwal. Sebagian lagi adalah mengusung tema tertentu yang melekat dengan pelaksanaan peringatan hari besar Islam, menyongsong event nasional dan lainya.

Seperti pendekatan sosial dan budaya yang diterima oleh masyarakat luas. Memperhatikan ruang dan waktu, topik-topiknya aktual, menyentuh kebutuhan dasar mad’u dan isu-isu terkini dalam masyarakat. Teori-teori dakwah antar budaya berusaha mengetahui karakter budaya suatu masyarakat merupakan kunci utama dalam memahami dan mengembangkan dakwah antar budaya. Rumusan konseptual hasil pengamatan terhadap proses pelaksanaan dakwah baik diterima atau ditolak oleh mad’u. Menurut Acep Aripudin diperlukan beberapa teori untuk membantu mengamati fenomena dakwah dari sisi analisis ilmu sosial, yaitu

1.      Resistance theory (teori resistensi) atau teori penolakan.

Dasar asumsi teori ini adalah bahwa setiap aktivitas dakwah akan selalu menghadapkan variabel da’i dan mad’u. Ketika interaksi terjadi pertentangan bahkan sikap dan respons penolakan tidak terelakan khususnya penolakan dari mad’u. Penolakan tersebut adalah konsekuensi logis akibat proses difusi budaya dari budaya yang berbeda. Da’i menyampaikan pesan-pesan dakwah yang termasuk baru bagi komunitas masyarakat tertentu. Maka budaya baru itu jelas mengancam eksistensi budaya lama yang telah dipeluk masyarakat sejak lama yang sudah berakar di kehidupannya. Umumnya mad’u menganggap budaya baru itu aneh bahkan menyalahkan. Budaya baru itu terkadang berbentuk gagasan, teori, dan tindakan yang teraktualisasi dalam proses interaksi masyarakat. Apabila gagasan-gagasan baru itu tidak memiliki landasan kuat dan tidak tersosialisasikan dalam pengalaman hidup, maka budaya baru itu mendapat dukungan dari komponen masyarakat dan terisolasi secara terus-menerus maka perlahan-lahan budaya baru itu, apa pun bentuknya akan diterima masyarakat.

2.      Acculturation theory (teori akulturasi) atau teori percampuran.

Era globalisasi tak hanya berpengaruh terhadap pola komunikasi dan sisitem informasi, lebih dari itu, konsekuensi terjadinya pembauran budaya global, baik ranah fisik maupun mental. Sarana tekhnologi informasi dan transportasi telah mempermudah hubungan antar budaya semakin cepat dan kuat. Dalam era informasi, hubungan antarmanusia tak hanya sebatas satu wilayah antarnegara, tetapi mencakup manusia sejagat. Kemudahan hubungan (relasi) dan interaksi antarsesama manusia dan berbagai komponen budaya menjadi bagian dari hubungan dalam dakwah antar budaya. Dari landasan teori ini, percampuran budaya karena interaksi manusia akan kehadiran bentuk budaya baru merupakan keniscayaan. Setiap manusia, komponen bangsa penghuni bumi ini memiliki kebudayaan, bahkan kebudayaan unggulan masing-masing anggota masyarakat untuk saling tukar secara terus-menerus dalam proses kehidupannya.

3.      Receptie theory (teori resepsi).

Menerima sepenuhnya atau menerima sebagian gagasan budaya yang lain adalah landasan utama teori ini. Penerimaan bisa terjadi karena gagasan dan budaya baru itu dianggap lebih baik dan menjanjikan terhadap perbaikan nasib hidup masyarakat. Fakta sejarah pengalaman ideal suatu masyarakat sering menjadi sandaran utama proses penerimaan terhadap gagasan-gagasan dan budaya baru dalam teori resepsi. Kondisi sosial masyarakat akan tampak lebih harmoni dan berjalan lebih terkendali karena terjadi kesepahaman dan atau paksaan.

4.      Complementery theory (teori komplementer)

Terjadi proses pertukaran antar budaya di dunia berjalan dengan cepat sehingga memungkinkan terjadi gesekan dan perpaduan budaya-budaya tersebut. Pada kenyataannya tak sepenuhnya suatu budaya baru/budaya lain dapat diterima pihak suatu masyarakat dengan mulus bahkan bisa terjadi penolakan. Akan tetapi lambat laun sebagian budaya luar dan baru itu diterima, bahkan dijadikan model dalam hubungan interaksi antar masyarakat. Antara budaya baru suatu masyarakat dan budaya lainnya bukan saling berbenturan (clash culture), tetapi menjadi budaya yang saling mengisi (complementary culture) (Aripudin, 2012. 19-22).

Dengan teori-teori di atas, maka akan lebih membantu menganalisis berbagai proses interaksi sosial dan dinamika dakwah yang menjadi realitas dalam masyarakat multikultural (Aripudin, 2012. 19-22).

Fokus kajian strategis kebudayaan dakwah Islam, hakikatnya memandang dakwah antar budaya sebagai sebuah proses berpikir dan bertindak secara dialektis dengan segala unsur-unsur dakwah dan budaya yang melingkupinya, demi tujuan dakwah, yakni menciptakan sebuah masyarakat Islam. Strategi dakwah antar budaya merupakan upaya aktif untuk menyatukan ide pikiran dan gerakan-gerakan dakwah dengan mempertimbangkan keragaman sosial budaya yang melekat pada masyarakat. Strategi ini membutuhkan perencanaan matang dan bijak tentang dakwah Islam secara rasional untuk mencapai tujuan Islam dengan mempertimbangkan budaya masyarakat, baik segi materi dakwah, metodologi maupun lingkungan tempat dakwah berlangsung (Aripudin, 2012. 119)

 

DAFTAR PUSTAKA

Syarifah, Masykurotus, BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH, Jurnal al-Bala,h, Vol. 1, No. 1, Januari – Juni 2016, diakses pada 3 April 2021, http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/

 



[1] Masykurotus Syarifah, BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH, Jurnal al-Bala,h, Vol. 1, No. 1, Januari – Juni 2016, diakses pada 25 Juni 2021, http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/

[2] Ibid.

Senin, 14 Juni 2021

Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Moderen

 

Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Modern



Oleh : Alfi Nurul Faridah

Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Fakultas Dakwah dan Komunikasi

UIN Sunan Ampel Surabaya 

 

PENDAHULUAN

Realitas sosial dalam komunikasi lintas budaya yang menunjukkan bahwa proses interaksi tidak hanya melibatkan aktifitas perilaku, tetapi juga aktifitas psikologis setiap individu yang terlibat. Oleh karena itu interaksi juga secara aktif melibatkan fungsi-fungsi psikologis seseorang baik dalam kaitannya dengan orang lain maupun dalam intern dirinya sendiri. Misalnya ketika seseorang sedang berinteraksi dengan orang lain dalam suatu komunitas baru masing-masing akan melakukan persepsi secara aktif, baik tentang orang lain maupun tentang dirinya sendiri. Bersamaan dengan proses interaksi itu, ia sesungguhnya telah ikut secara aktif mengkonstruksi lingkungannya. Presepsi juga merupakan salah satu bentuk hambatan dalam komunikasi dimana semua manusia tidak mungkin memiliki presepsi yang sama antara satu dengan yang lain. Yang menimbulkan pergbedaan pendapat. Selain presepsi tentu masih banyak hambatan lain dalam komunikasi lintas budaya. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas beberapa hambatan dalam komunikasi lintas budaya serta cara untuk meminimalisir hambatan tersebut.

 

PEMBAHASAN

A.    HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

Dalam bukunya Intercultural Business Communication, Chaney dan Martin (2004) mengungkapkan bahwa: hambatan komunikasi atau communication barrier adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang untuk terjadinya komunikasi yang efektif. Perbedaan budaya sendiri merupakan salah satu faktor penghambat dalam komunikasi antar budaya maupun lintas budaya.[1]

Hambatan tersebut tentu saja dapat muncul dalam setiap bentuk atau konteks komunikasi, termasuk salah satunya komunikasi lintas budaya. Hal ini dapat disebabkan karena kebudayaan menyediakan cara-cara berpikir bagi manusia; cara melihat, mendengar, dan menerjemahkan dunia sehingga satu kata dapat dimaknai berbeda oleh orang-orang yang berbeda kebudayaan, bahkan meski mereka berbicara dalam bahasa yang sama. Ketika bahasa berbeda, dan penerjemahan harus digunakan, maka potensi kesalahpahaman pun meningkat. Oleh karenanya, komunikasi efektif di antara orang-orang yang berbeda kebudayaan menjadi salah satu perkara yang cukup menantang.

Adapun faktor hambatan komunikasi antar budaya yang sering terjadi sebagai berikut:[2]

1.      Fisik (Physical). Hambatan komunikasi ini berasal dari hambatan waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan juga media fisik.

2.      Budaya (Cultural). Hambatan ini berasal dari etnik yang berbeda, agama, dan juga perbedaan sosial yang ada antara budaya yang satu dengan yang lainnya.

3.      Persepsi (Perceptual). Jenis hambatan ini muncul dikarenakan setiap orang memiliki persepsi (sudut pandang) yang berbeda-beda mengenai suatu hal sehingga setiap budaya akan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda untuk mengartika sesuatu.

4.      Motivasi (Motivational). Habatan ini berkitan dengan tingkat motivasi dari pendengar, maksudnya apakah pendengar yang menerima pesan ingin menerima pesan tersebut atau apakah pendengar tidak mau menerimanya.

5.      Pengalaman (Experiental). Suatu jenis hambatan yang terjadi karena setiap individu tidak memiliki pengalaman hidup yang sma sehingga setiap individu mempunyai persepsi dan konsep yang berbeda-beda dalam meliahat sesuatu.

6.      Emosi (Emotional). Hal ini berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.

7.      Bahasa (Linguistic). Hambatan komunikasi akan terjadi apabila pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receive) menggunakan bahasa yang berbeda atau penggunaan kata-kata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan.

8.      Non-Verbal. Komunikasi yang tidak berbentuk kata-kata tetapi dapat menjadi hambatan komunikasi. Ekspresi wajah cukup menentukan ketika orang mau berbicara dengan orang lain. Ketika seseorang sedan dalam keadaan marah maka ekspresi akan menghalangi orang lain berbicara kepadanya.

9.      Kompetisi (Competition). Hambatan terjadi ketika penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain sembil mendengar. Seseorang yang sedang bermain catur sambil menerima telefon maka pemain catur dalam mendengarkan pesan dari penelfon tidak akan maksimal.

Selain 9 hambatan tersebut, masih ada tiga penyebab yang mengakibatkan transformasi komunikasi lintas budaya atau multikultural terhalangi, yaitu:

1.       Prasangka.

Sikap didasarkan pada kesalahan generalisasi yang tidak luwes yang diekspresikan lewat perasaan. Sikap yang cenderung negative atas suatu kelompok tertentu dengan tanpa alasan dan pengetahuan atas sesuatu sebelumnya. Prasangka juga terkadang digunakan mengevaluasi sesuatu tanpa adanya argument atau informasi yang masuk. Efeknya adalah menjadikan orang lain sebagai sasaran, misalnya mengkambinghitamkan sasaran melalui stereotipe, diskriminasi dan penciptaan jarak sosial.

2.       Stereotip

Stereotip adalah pandangan umum dari suatu kelompok masyarakat terhadap kelompok masyarakat yang lain. Pandangan umum ini biasanya bersifat negative (bahasa Jawa salah kaprah). Artinya, bahwa pandangan yang ditujukan kepada komunitas tertentu, misalnya stereotip untuk orang Semarang dikenal dengang “gertak Semarang” (menggertak), dan bagi orang Solo distereotipkan “amuk Solo” (sombong) dan stereotip bagi orang Yogja, “gelembuk Yogja” (merayu).[3]

Sedangkan menurut Suparlan stereotip adalah generalisasi kesan yang kita miliki mengenai seseorang terutama karakter psikologis dan kepribadian. Stereotip juga bisa diartikan sebagai sebuah image atau sikap prasangka dari orang-orang atau pada kelompok-kelompok yang tidak didasarkan pada observasi dan pengalaman, melainkan didasarkan pada pendapat-pendapat sebelumnya.

3.       Etnosentrisme

Etnosentrisme didefinisikan sebagai kepercayaan pada superioritas inheren kelompok atau budayanya sendiri; etnosentrisme mungkin disertai rasa jijik pada orang-orang lain yang tidak sekelompok; etnosentrisme cenderung memandang rendah orang-orang lain yang tidak sekelompok dan dianggap asing; etnosentrisme memandang dan mengukur budaya-budaya asing dengan budayanya sendiri.[4]

 

B.     CARA MENGATASI HAMBATAN DALAM KOMUNIKASI

Terdapat beberapa cara untuk meminimalisir atau bahkan menghilangkan hambatan dalam komunikasi lintas budaya atau multicultural, antara lain adalah dengan memahami keunikan tiap-tiap individu dan mengembangkan kompetensi antar budaya demi mencapai komunikasi antar budaya yang efektif. Jandt mengidentifikasikan empat keterampilan sebagai bagian dari kompetensi antar budaya, yaitu kekuatan personal, kemampuan berkomunikasi, penyesuaian psikologi dan kesadaran berbudaya.[5]

Secara sederhana dapat dipahami bahwa efektifitas komunikasi multikultural sangat ditentukan oleh kemampuan komunikator dalam berkomunikasi dengan berupaya meningkatkan kemampuan diri tentang pengetahuan budaya, psikologi dan apa saja yang berkaitan dengan status mitra komunikasinya yang memiliki perbedaan budaya. Disamping juga memperhatikan konteks komunikasinya secara umum, baik berupa ruang, nilai, norma dan status hubungan dengan mitra komunkasinya.[6]

Mengutip pendapat para pakar, DeVito (2013) menyarikan beberapa hal yang dapat menjadi panduan dalam mewujudkan komunikasi yang efektif, yaitu: (1) mendidik diri sendiri misalnya dengan cara mengembangkan pengetahuan tentang kebudayaan orang lain dan mengatasi ketakutan atau kecemasan yang muncul, (2) mengenali perbedaan-perbedaan, yang terdiri dari beberapa hal seperti: perbedaan antara diri sendiri dengan budaya lain, perbedaan di antara berbagai kelompok kebudayaan, perbedaan dalam makna (kata), melawan streotip, mengurangi etnosentrisme, dan menyesuaikan cara berkomunikasi.[7]

KESIMPULAN

Di era modern saat ini kita harus bisa mengfilter budaya yang berbeda masuk dalam aktifitas kehidupan kita, apakah budaya tersebut baik atau bahkan menimbulkan efek yang tidak baik. Kita juga harus bisa toleransi dan menghargai budaya orang lain, meskipun budaya mereka bertentangan. Dalam komunikasi modern seperti media sosial saat ini, perbedaan presepsi sangat banyak sekali yang menimbulkan kesalah pahaman dan mengakibatkan perdebatan dan perpecahbelahan kelompok-kelompok tertentu. Karena itu kita harus bisa memahami karakter dan mencari tau latar belakang kehidupan, bahkan budaya mereka sebelum kita menjelek-jelekkan dan menganggap kepercayaan kita yang paling benar.

 

REFERENSI

Chaney, Lilian, Martin, Jeanette & Martin. Intercultural Business Communication. (New Jersey: Pearson Education, Inc, Upper Saddle River, 2004), 11 dalam Jurnal E-Komunikasi, ed. Alvin Sanjaya, (Surabaya, UKP Surabaya, tt), 254

Jandt, Fred.E. dalam E-Jurnal Universitas Sebelas Maret, ed. Andriana Noro Iswari & Pawito,. Surakarta; Universitas Sebelas Maret Surakarta, tt.

Liliweri, Allo. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: Lkis. 2003.

Moulita, HAMBATAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DI KALANGAN MAHASISWA, Jurnal Interaksi, Volume : 2, Nomor : 1, Edisi Januari 2018

Mulyana, Deddy Dan Rahmat, Jalaludin. Komunikasi Antar Budaya. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2000.

Purwasito, Andrik. Komunikasi Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2015.

Uha, Ismail Nawawi. Komunikasi Lintas Budaya: Teori, Aplikasi dan Kasus Sosial Bisnis dan Pembanguna. Jakarta Barat: Dwiputra Pustaka Jaya. 2012.



[1] Ismail Nawawi Uha, Komunikasi Lintas Budaya: Teori, Aplikasi dan Kasus Sosial Bisnis dan Pembangunan (Jakarta Barat: Dwiputra Pustaka Jaya, 2012), 11-12

[2] Chaney, Lilian,Martin, Jeanette & Martin. Intercultural Business Communication. (New Jersey: Pearson Education, Inc, Upper Saddle River, 2004), 11 dalam Jurnal E-Komunikasi, ed. Alvin Sanjaya, (Surabaya, UKP Surabaya, tt), 254. Diakses pada 10 Juni 2021.

[3] Andrik Purwasito, Komunikasi Multikultural, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), 322.

[4] Deddy Mulyana Dan Jalaludin Rahmat. Komunikasi Antar Budaya, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), 70

[5] Jandt, Fred.E. dalam E-Jurnal Universitas Sebelas Maret, ed. Andriana Noro Iswari & Pawito, (Surakarta; Universitas Sebelas Maret Surakarta, tt), 7. Diakses pada 10 Juni 2021

[6] Allo Liliweri, Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya, (Yogyakarta: Lkis, 2003), 224

[7] Moulita, HAMBATAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DI KALANGAN MAHASISWA, Jurnal Interaksi, Volume : 2, Nomor : 1, Edisi Januari 2018

MINI BOOK DAKWAH MULTIKULTURAL & KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

TUGAS UAS MINI BOOK ALFI NURUL FARIDAH NIM B71219058