Pentingnya Da’i Memahami Peran Dakwah Komunikasi Antar Budaya
Komunikasi antar budaya itu apa sih? apa pentingnya peran dakwah dalam komunikasi antar budaya? Lalu apa tujuan dan fungsi dakwah dalam komunikasi antar budaya??. Nah perlu diketahui, sebagai seorang da'i (komunikator) kita harus bisa mengetahui latar belakang mad'u (komunikan) terlebuh dahulu sebelum berdakwah. Agar pesan dakwah yang kita sampaikan tepat sasaran dan bisa diterima dengan baik tanpa ada unsur paksaan sedikitpun. Esensi dakwah berperan untuk mengubah segala penyembahan kepada selain Allah kepada keyakinan tauhid, mengubah semua jenis kondisi kehidupan yang timpang kearah kondisi yang penuh dengan ketenangan batin dan kesejahtraan lahir berdasarkan nilai-nilai Islam.
Komunikasi antar budaya dalam masyarakat plural tidak terlepas dari
peran dakwah Islam yang pada hakikatnya adalah upaya untuk mengubah
seseorang, sekelompok orang, atau suatu masyarakat menuju keadaan yang lebih
baik sesuai dengan perintah Allah SWT dan tuntunan Rosul-Nya.[1] Kebanyakan
komunikasi gagal akibat faktor ketidak pahaman akan budaya. Sementara itu noise
yang paling berpengaruh dalam proses komunikasi adalah budaya. Komunikasi antar
budaya mencoba untuk melakukan pendekatan-pendekatan dengan berbagai cara,
seperti psikologis, sosiologi, kritik budaya, dialog budaya dan lain lain. (Mulyana,
2001. 12).
Berbicara hubungan antara budaya dan komunikasi sangat penting
dipahami, karena terjadinya persepsi
yang keliru atau pemberian makna yang berbeda pada objek sosial atau suatu
pristiwa perlu dihindari. Budaya adalah suatu pola hidup yang menyeluruh. Budaya bersifat
kompleks, abstrak dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan prilaku
komunikatif tetapi ada unsur sosial budaya yang mempunyai pengaruh besar dalam
membangun persepsi, yang dimaksudkan yaitu, pertama sistem-sistem kepercayaan (belief), nilai (value),
sikap (attitude), kedua, pandangan (world view), dan ketiga, organisasi
sosial (social organization). (Muhammad Thalhah Hasan, 2003: 21).[2]
Menurut teori komunikasi antar budaya, Edward T. Hall, komunikasi
dan budaya memiliki hubungan sangat erat. Menurutnya, communication is
culture and culture is communication. Hall terlebih dahulu membedakan
budaya konteks tinggi (high context culture) seperti kebanyakan pesan
yang bersifat implisit, tidak langsung dan tidak terus terang, dengan budaya konteks rendah (low context
culture) seperti pesan verbal dan eksplisit, gaya bicara langsung lugas dan
berterus terang.[3]
Orang-orang berbudaya konteks tinggi lebih menyadari proses
penyaringan budaya daripada orang-orang berbudaya konteks rendah. Dalam
kaitannya dengan aktivitas dakwah, pengkajiannya dengan pendekatan komunikasi
konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah. Bagaimana para da’i melakukan
tugasnya sebagai pengayom masyarakat, penyelamat masyarakat dan memajukan
masyarakat dengan pendekatan-pendekatan yang lebih dekat dan ramah dengan
budaya yang dianut masyarakat setempat (Aripuddin, 2011. 16).
Menurut litvin tujuan dan fungsi dari komunikasi antar budaya bersifat
kognitif dan afektif, yaitu mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat
seseorang mampu menerima gaya dan sisi komunikasi itu sendiri. Dalam segi
fungsi, dakwah adalah ilmu yang mengkaji tentang mengajak umat manusia kepada
jalan Allah yang dibangun dan dikembangkan dengan metode ilmiah sehingga dapat
berfungsi dalam rangka memahami, memprediksi (prediction), menjelaskan (explanation),
dan mengontrol (control) berbagai fenomena dan persoalan yang terkait
dengan dakwah.[4]
Tujuan dakwah dalam komunikasi antar budaya dengan menggunakan metode
dakwah yang tidak menghapus budaya atau tradisi lama menjadikan diterimanya
ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat. Islam lebih fleksibel dan
mudah diterima oleh semua lapisan masyarakat meskipun memiliki perbedaan antara
satu sama lain. Fungsi dakwah dalam komunikasi antar budaya, diantaranya, adalah :
1.
Mengajarkan
dan mengenalkan nilai-nilai ajaran Islam kepada budaya masyarakat.
2.
Menjelaskan
secara sistematis fenomena yang berkembang berkaitan dengan proses dakwah.
3.
Menjadi
perantara dalam proses berkomunikasi antar budaya.
4. Mengawasi
praktik komunikasi antar budaya antara komunikator dan komunikan yang berbeda
kebudayaan.
Karateristik agama Islam dalam visi keagamaannya bersifat toleran, pemaaf, tidak memaksakan, dan saling menghargai karena dalam pluralitas agama tersebut terdapat unsur kesamaan yaitu pengabdian kepada Tuhan. Seperti yang dijelaskan dalam Al-qur'an
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Q.S Al-Baqarah Ayat 256).
Sebagai makhluk yang berbudaya, maka misi dakwah melalui pendekatan dakwah antar budaya manusia selalu hidup bersama dan tidak dapat hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Sejak lahir manusia selalu berinteraksi dengan orang lain. ini dapat dilihat dalam kehidupan kita sehari-hari, semua kegiatan yang dilakukan manusia selalu berhubungan dengan orang lain.
Sebagaimana agama Islam memberi banyak petunjuk dalam hal dakwah
antar budaya, kalau dalam Islam kita kenal dengan istilah ukhuwah Islamiah,
suatu ikatan persaudaraan tidak hanya kepada sesama muslim akan tetapi lebih
dari itu kepada non muslim sekalipun kita juga diharapkan selalu bersikap baik
saling menghormati satu sama lain dan ini akan menumbuhkan dakwah antar budaya
semakin terasa. (Amin, 2009:215).[5]
Bahasa
merupakan refleksi dari nilai budaya. Menurut Samovar at all (2010), Ada tiga fungsi bahasa yang berkaitan
dengan budaya, diantaranya:
1. Communication exchange (pertukaran komunikasi)
2. Language and identity (petunjuk identitas), misalnya seperti bahasa dari
berbagai negara yang digunakan untuk menunjukkan identitas negara tersebut. Jepang
menggunakan bahasa Jepang, Korea menggunakan bahasa Korea, dan sedangkan
Malaysia menggunakan bahasa Melayu dan lain sebagainya, terutama Indonesia
menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama.
3. Language and unity (bahasa sebagai pemersatu), di sumpah pemuda juga
disebutkan bahwa bahasa kita yang satu yaitu bahasa Indonesia meskipun banyak
bahasa daerah yang berbeda-beda.
Komunikasi Dakwah, Apa sih yang membedakan antara komunikasi
dan dakwah?. Jadi komunikasi adalah suatu proses dimana seseorang, beberapa
orang, kelompok organisasi dan masyarakat menciptakan dan menggunakan informasi
agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain. Sedangkan dakwah adalah bentuk
komunikasi yang berupa pesan ajakan kepada jalan Tuhan atau ajakan berbuat baik
dan meninggalkan segala keburukan. Jadi komunikasi dakwah terdiri dari 2 kata
yaitu komunikasi yang berarti pesan dan dakwah yang berarti ajakan kepada
Tuhan. Dalam firman Allah SWT
اُدْعُ
اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ
بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ
سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah
dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari
jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (Q.S An Nahl ayat 125).
REFERENSI
Ahmad, Nur, MEWUJUDKAN DAKWAH ANTAR BUDAYA DALAM PERSPEKTIF ISLAM, AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, Vol. 3, No.1 Juni 2015, diakses pada 3 April 2021, https://journal.iainkudus.ac.id/
Rahman P., Abd. PERANAN DAKWAH DAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM MASYARAKAT PLURAL, Jurnal Al-Munzir, Vol. 7, No. 1, Mei 2014, diakses pada 3 April 2021, http://download.garuda.ristekdikti.go.id/
Syarifah, Masykurotus, BUDAYA DAN
KEARIFAN DAKWAH, Jurnal al-Bala,h, Vol. 1, No. 1, Januari – Juni 2016, diakses
pada 3 April 2021, http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/
[1] Abd. Rahman P.,
PERANAN DAKWAH DAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM MASYARAKAT PLURAL, Jurnal Al-Munzir,
Vol. 7, No. 1, Mei 2014, diakses pada 3 April 2021, http://download.garuda.ristekdikti.go.id/
[2] Ibid.,
[3] Masykurotus
Syarifah, BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH, Jurnal al-Balagh, Vol. 1, No. 1,
Januari – Juni 2016, diakses pada 3 April 2021, http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/
[4] Ibid.,
[5] Nur Ahmad, MEWUJUDKAN
DAKWAH ANTAR BUDAYA DALAM PERSPEKTIF ISLAM, AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi
Penyiaran Islam, Vol. 3, No.1 Juni 2015, diakses pada 3 April 2021, https://journal.iainkudus.ac.id/

Sangat bermanfaat, semangatt terusss
BalasHapus