TUGAS UAS MINI BOOK
ALFI NURUL FARIDAH
NIM B71219058
TUGAS UAS MINI BOOK
ALFI NURUL FARIDAH
NIM B71219058
BUDAYA DAN
KEARIFAN DAKWAH
Mempelajari komunikasi lintas budaya
adalah wajib karena itu merupakan tiket untuk kita agar mampu beradaptasi di
manapun kita berada, terutama di Indonesia di mana berbagai suku dan budaya
hidup berdampingan. Konflik berkepanjangan dapat terjadi jika seseorang tidak
memahami perbedaan-perbedaan yang ada dan tidak melakukan melakukan apapun
untuk komunikasi lintas budaya.
Dengan mempelajari komunikasi lintas
budaya, seseorang bisa memahami perbedaan dengan bersikap netral atau moderat.
Sehingga konflik yang timbul antar budaya etnis yang berbeda tidak akan
terjadi. Lebih lanjut, mempelajari komunikasi lintas budaya dapat membuat kita
lebih berhati-hati dalam membangun hubungan dengan budaya lain. Para pendakwah
harus memahami tempat, budaya, kebiasaan dan bahasa objek dakwahnya karena hal
tersebut menentukan kesuksesan dakwah yang dilakukannya.
A. DAKWAH ANTAR BUDAYA
Dalam dakwah, unsur dakwah meliputi dai, mad’u,
metode, materi, media. Dan dalam komunikasi, unsurnya dalah komunikator,
komunikan, pesan, media, dan efek. Keduanya hampir sama maknanya, hanya saja
dalam unsur dakwah, efek tidak dicantumkan. Namun pasti setiap komunikasi baik
dilakukan dengan kemasan dakwah, akan tetap meberikan efek tersendiri. Seorang
da’i, dituntut untuk bisa menyampaikan materi kepada mad’u secara gamblang dan
dapat diterima oleh mad’u, ini merupakan keharusan. Karena seorang da’i
dianggap berhasil apabila ia telah mampu memahamkan mad’u-nya. Dalam
komunikasi, hal ini disebut komunikasi efektif. Untuk memenuhi tuntutan
tersebut, seorang dai harus bisa memahami kondisi mad’u. Di sinilah letak
pentingnya komunikasi lintas budaya, karena dengan memahami budaya yang ada,
maka dakwah dapat dilaksanakan dengan baik.[1]
Salah satu metode yang digunakan dalam
berdakwah adalah dakwah bil hikmah, dakwah bil hikmah dilakukan dengan cara
yang arif dan bijaksana, yaitu melalui pendekatan sedemikian rupa sehingga
pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak
merasa ada paksaan, tekanan, mapun konflik. Inilah yang bisa diterapkan dalam
konsep dakwah lintas budaya.
Dakwah antar budaya merupakan proses dakwah
yang mempertimbangkan keragaman budaya antar da’i (subjek dakwah) dan mad’u
(objek dakwah), dan keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada
tingkat antar budaya, agar pesan dakwah dapat tersampaikan, dengan tetap
terpeliharanya situasi damai (Aripudin, 2012. 25).[2]
Dakwah antar budaya merupakan kajian proses
berdakwah mengajak seorang manusia untuk menyampaikan pesan-pesan agama Islam
dan perilaku Islami sesuai dengan konsep budaya yang berkembang di masyarakat.
Hakikat dakwah antar budaya itu bagaimana kita dalam berdakwah, menggunakan
budaya sebagai materi, metode, alat, dan strategi sesuai dengan kondisi budaya
sasaran dakwah (mad’u). Karena setiap orang, setiap tempat wilayah dan
lingkungan mempunyai kondisi sosial budaya yang berbeda-beda. Maka dalam
pendekatannya pun berbeda pula.
B. TEORI DAKWAH ANTARBUDAYA
Dakwah merupakan sebuah proses transformasi
nilai-nilai ajaran Islam kedalam masyarakat, oleh karena itu dakwah tidak akan
pernah berhenti untuk berinteraksi dengan budaya dari masyarakat itu sendiri.
Terdapat konsep dakwah yang mengedepankan cara-cara simpatik, bijaksana dan
lebih humanis (Pimay, 2005. 45).
Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kini telah
diwarnai oleh mobilitas sosial yang sangat tinggi. Terjadi akulturasi
(percampuran budaya) dan transkulturasi (tarik menarik antar budaya), sejalan
dengan kemajuan tekonologi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan yang
spektakuler adalah pada teknologi komunikasi, yang kemudian sangat mempengaruhi
pola dakwah masa kini. Secara tematik, ada beberapa jenis kegiatan dakwah di
masyarakat. Sebagian adalah pendalaman pengetahuan agama yang dilakukan secara
rutin dan terjadwal. Sebagian lagi adalah mengusung tema tertentu yang melekat
dengan pelaksanaan peringatan hari besar Islam, menyongsong event nasional dan
lainya.
Seperti pendekatan sosial dan budaya yang diterima
oleh masyarakat luas. Memperhatikan ruang dan waktu, topik-topiknya aktual,
menyentuh kebutuhan dasar mad’u dan isu-isu terkini dalam masyarakat.
Teori-teori dakwah antar budaya berusaha mengetahui karakter budaya suatu
masyarakat merupakan kunci utama dalam memahami dan mengembangkan dakwah antar
budaya. Rumusan konseptual hasil pengamatan terhadap proses pelaksanaan dakwah
baik diterima atau ditolak oleh mad’u. Menurut Acep Aripudin diperlukan
beberapa teori untuk membantu mengamati fenomena dakwah dari sisi analisis ilmu
sosial, yaitu
1. Resistance
theory (teori resistensi) atau teori penolakan.
Dasar asumsi teori ini adalah bahwa setiap
aktivitas dakwah akan selalu menghadapkan variabel da’i dan mad’u. Ketika
interaksi terjadi pertentangan bahkan sikap dan respons penolakan tidak
terelakan khususnya penolakan dari mad’u. Penolakan tersebut adalah konsekuensi
logis akibat proses difusi budaya dari budaya yang berbeda. Da’i menyampaikan
pesan-pesan dakwah yang termasuk baru bagi komunitas masyarakat tertentu. Maka
budaya baru itu jelas mengancam eksistensi budaya lama yang telah dipeluk
masyarakat sejak lama yang sudah berakar di kehidupannya. Umumnya mad’u menganggap
budaya baru itu aneh bahkan menyalahkan. Budaya baru itu terkadang berbentuk
gagasan, teori, dan tindakan yang teraktualisasi dalam proses interaksi
masyarakat. Apabila gagasan-gagasan baru itu tidak memiliki landasan kuat dan
tidak tersosialisasikan dalam pengalaman hidup, maka budaya baru itu mendapat
dukungan dari komponen masyarakat dan terisolasi secara terus-menerus maka
perlahan-lahan budaya baru itu, apa pun bentuknya akan diterima masyarakat.
2. Acculturation
theory (teori akulturasi) atau teori percampuran.
Era globalisasi tak hanya berpengaruh terhadap
pola komunikasi dan sisitem informasi, lebih dari itu, konsekuensi terjadinya
pembauran budaya global, baik ranah fisik maupun mental. Sarana tekhnologi
informasi dan transportasi telah mempermudah hubungan antar budaya semakin
cepat dan kuat. Dalam era informasi, hubungan antarmanusia tak hanya sebatas
satu wilayah antarnegara, tetapi mencakup manusia sejagat. Kemudahan hubungan
(relasi) dan interaksi antarsesama manusia dan berbagai komponen budaya menjadi
bagian dari hubungan dalam dakwah antar budaya. Dari landasan teori ini,
percampuran budaya karena interaksi manusia akan kehadiran bentuk budaya baru
merupakan keniscayaan. Setiap manusia, komponen bangsa penghuni bumi ini
memiliki kebudayaan, bahkan kebudayaan unggulan masing-masing anggota
masyarakat untuk saling tukar secara terus-menerus dalam proses kehidupannya.
3. Receptie theory (teori resepsi).
Menerima sepenuhnya atau menerima
sebagian gagasan budaya yang lain adalah landasan utama teori ini. Penerimaan
bisa terjadi karena gagasan dan budaya baru itu dianggap lebih baik dan
menjanjikan terhadap perbaikan nasib hidup masyarakat. Fakta sejarah pengalaman
ideal suatu masyarakat sering menjadi sandaran utama proses penerimaan terhadap
gagasan-gagasan dan budaya baru dalam teori resepsi. Kondisi sosial masyarakat
akan tampak lebih harmoni dan berjalan lebih terkendali karena terjadi
kesepahaman dan atau paksaan.
4. Complementery theory (teori komplementer)
Terjadi proses pertukaran antar budaya di
dunia berjalan dengan cepat sehingga memungkinkan terjadi gesekan dan perpaduan
budaya-budaya tersebut. Pada kenyataannya tak sepenuhnya suatu budaya
baru/budaya lain dapat diterima pihak suatu masyarakat dengan mulus bahkan bisa
terjadi penolakan. Akan tetapi lambat laun sebagian budaya luar dan baru itu
diterima, bahkan dijadikan model dalam hubungan interaksi antar masyarakat.
Antara budaya baru suatu masyarakat dan budaya lainnya bukan saling berbenturan
(clash culture), tetapi menjadi budaya yang saling mengisi (complementary
culture) (Aripudin, 2012. 19-22).
Dengan
teori-teori di atas, maka akan lebih membantu menganalisis berbagai proses
interaksi sosial dan dinamika dakwah yang menjadi realitas dalam masyarakat
multikultural (Aripudin, 2012. 19-22).
Fokus
kajian strategis kebudayaan dakwah Islam, hakikatnya memandang dakwah antar
budaya sebagai sebuah proses berpikir dan bertindak secara dialektis dengan
segala unsur-unsur dakwah dan budaya yang melingkupinya, demi tujuan dakwah,
yakni menciptakan sebuah masyarakat Islam. Strategi dakwah antar budaya
merupakan upaya aktif untuk menyatukan ide pikiran dan gerakan-gerakan dakwah
dengan mempertimbangkan keragaman sosial budaya yang melekat pada masyarakat.
Strategi ini membutuhkan perencanaan matang dan bijak tentang dakwah Islam
secara rasional untuk mencapai tujuan Islam dengan mempertimbangkan budaya
masyarakat, baik segi materi dakwah, metodologi maupun lingkungan tempat dakwah
berlangsung (Aripudin, 2012. 119)
DAFTAR PUSTAKA
Syarifah,
Masykurotus, BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH, Jurnal al-Bala,h, Vol. 1,
No. 1, Januari – Juni 2016, diakses pada 3 April 2021, http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/
[1] Masykurotus Syarifah, BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH, Jurnal
al-Bala,h, Vol. 1, No. 1, Januari – Juni 2016, diakses pada 25 Juni
2021, http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/
[2]
Ibid.
Hambatan Komunikasi Lintas Budaya
Dalam Dakwah Multikultural Modern
Oleh : Alfi Nurul Faridah
Prodi
Komunikasi dan Penyiaran Islam
Fakultas
Dakwah dan Komunikasi
UIN
Sunan Ampel Surabaya
PENDAHULUAN
Realitas
sosial dalam komunikasi lintas budaya yang menunjukkan bahwa proses interaksi
tidak hanya melibatkan aktifitas perilaku, tetapi juga aktifitas psikologis
setiap individu yang terlibat. Oleh karena itu interaksi juga secara aktif
melibatkan fungsi-fungsi psikologis seseorang baik dalam kaitannya dengan orang
lain maupun dalam intern dirinya sendiri. Misalnya ketika seseorang sedang
berinteraksi dengan orang lain dalam suatu komunitas baru masing-masing akan
melakukan persepsi secara aktif, baik tentang orang lain maupun tentang dirinya
sendiri. Bersamaan dengan proses interaksi itu, ia sesungguhnya telah ikut
secara aktif mengkonstruksi lingkungannya. Presepsi juga merupakan salah satu
bentuk hambatan dalam komunikasi dimana semua manusia tidak mungkin memiliki
presepsi yang sama antara satu dengan yang lain. Yang menimbulkan pergbedaan
pendapat. Selain presepsi tentu masih banyak hambatan lain dalam komunikasi
lintas budaya. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas beberapa hambatan
dalam komunikasi lintas budaya serta cara untuk meminimalisir hambatan
tersebut.
PEMBAHASAN
A. HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Dalam
bukunya Intercultural Business Communication, Chaney dan Martin (2004)
mengungkapkan bahwa: hambatan komunikasi atau communication barrier
adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang untuk terjadinya komunikasi yang
efektif. Perbedaan budaya sendiri merupakan salah satu faktor penghambat dalam
komunikasi antar budaya maupun lintas budaya.[1]
Hambatan
tersebut tentu saja dapat muncul dalam setiap bentuk atau konteks komunikasi,
termasuk salah satunya komunikasi lintas budaya. Hal ini dapat disebabkan
karena kebudayaan menyediakan cara-cara berpikir bagi manusia; cara melihat,
mendengar, dan menerjemahkan dunia sehingga satu kata dapat dimaknai berbeda
oleh orang-orang yang berbeda kebudayaan, bahkan meski mereka berbicara dalam
bahasa yang sama. Ketika bahasa berbeda, dan penerjemahan harus digunakan, maka
potensi kesalahpahaman pun meningkat. Oleh karenanya, komunikasi efektif di
antara orang-orang yang berbeda kebudayaan menjadi salah satu perkara yang
cukup menantang.
Adapun faktor hambatan komunikasi antar budaya yang sering terjadi sebagai
berikut:[2]
1. Fisik (Physical). Hambatan komunikasi ini berasal dari
hambatan waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan juga media fisik.
2. Budaya (Cultural). Hambatan ini berasal dari etnik yang
berbeda, agama, dan juga perbedaan sosial yang ada antara budaya yang satu
dengan yang lainnya.
3. Persepsi (Perceptual). Jenis hambatan ini muncul dikarenakan
setiap orang memiliki persepsi (sudut pandang) yang berbeda-beda mengenai suatu
hal sehingga setiap budaya akan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda untuk
mengartika sesuatu.
4. Motivasi (Motivational). Habatan ini berkitan dengan tingkat
motivasi dari pendengar, maksudnya apakah pendengar yang menerima pesan ingin
menerima pesan tersebut atau apakah pendengar tidak mau menerimanya.
5. Pengalaman (Experiental). Suatu jenis hambatan yang terjadi
karena setiap individu tidak memiliki pengalaman hidup yang sma sehingga setiap
individu mempunyai persepsi dan konsep yang berbeda-beda dalam meliahat
sesuatu.
6. Emosi (Emotional). Hal ini berkaitan dengan emosi atau
perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka
hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.
7. Bahasa (Linguistic). Hambatan komunikasi akan terjadi apabila
pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receive) menggunakan bahasa
yang berbeda atau penggunaan kata-kata yang tidak dimengerti oleh penerima
pesan.
8. Non-Verbal. Komunikasi yang tidak berbentuk kata-kata tetapi dapat
menjadi hambatan komunikasi. Ekspresi wajah cukup menentukan ketika orang mau
berbicara dengan orang lain. Ketika seseorang sedan dalam keadaan marah maka
ekspresi akan menghalangi orang lain berbicara kepadanya.
9. Kompetisi (Competition). Hambatan terjadi ketika penerima
pesan sedang melakukan kegiatan lain sembil mendengar. Seseorang yang sedang
bermain catur sambil menerima telefon maka pemain catur dalam mendengarkan
pesan dari penelfon tidak akan maksimal.
Selain 9
hambatan tersebut, masih ada tiga penyebab yang mengakibatkan transformasi komunikasi
lintas budaya atau multikultural terhalangi, yaitu:
1. Prasangka.
Sikap didasarkan pada kesalahan generalisasi yang tidak luwes yang
diekspresikan lewat perasaan. Sikap yang cenderung negative atas suatu kelompok
tertentu dengan tanpa alasan dan pengetahuan atas sesuatu sebelumnya. Prasangka
juga terkadang digunakan mengevaluasi sesuatu tanpa adanya argument atau
informasi yang masuk. Efeknya adalah menjadikan orang lain sebagai sasaran,
misalnya mengkambinghitamkan sasaran melalui stereotipe, diskriminasi dan
penciptaan jarak sosial.
2. Stereotip
Stereotip adalah pandangan umum dari suatu kelompok masyarakat
terhadap kelompok masyarakat yang lain. Pandangan umum ini biasanya bersifat
negative (bahasa Jawa salah kaprah). Artinya, bahwa pandangan yang
ditujukan kepada komunitas tertentu, misalnya stereotip untuk orang Semarang
dikenal dengang “gertak Semarang” (menggertak), dan bagi orang Solo distereotipkan
“amuk Solo” (sombong) dan stereotip bagi orang Yogja, “gelembuk Yogja”
(merayu).[3]
Sedangkan menurut Suparlan stereotip adalah generalisasi kesan yang
kita miliki mengenai seseorang terutama karakter psikologis dan kepribadian. Stereotip
juga bisa diartikan sebagai sebuah image atau sikap prasangka dari orang-orang
atau pada kelompok-kelompok yang tidak didasarkan pada observasi dan
pengalaman, melainkan didasarkan pada pendapat-pendapat sebelumnya.
3. Etnosentrisme
Etnosentrisme didefinisikan sebagai kepercayaan pada superioritas
inheren kelompok atau budayanya sendiri; etnosentrisme mungkin disertai rasa
jijik pada orang-orang lain yang tidak sekelompok; etnosentrisme cenderung
memandang rendah orang-orang lain yang tidak sekelompok dan dianggap asing;
etnosentrisme memandang dan mengukur budaya-budaya asing dengan budayanya
sendiri.[4]
B.
CARA MENGATASI HAMBATAN DALAM KOMUNIKASI
Terdapat beberapa cara untuk meminimalisir atau bahkan
menghilangkan hambatan dalam komunikasi lintas budaya atau multicultural,
antara lain adalah dengan memahami keunikan tiap-tiap individu dan
mengembangkan kompetensi antar budaya demi mencapai komunikasi antar budaya
yang efektif. Jandt mengidentifikasikan empat keterampilan sebagai bagian dari
kompetensi antar budaya, yaitu kekuatan personal, kemampuan berkomunikasi,
penyesuaian psikologi dan kesadaran berbudaya.[5]
Secara sederhana dapat dipahami bahwa efektifitas komunikasi
multikultural sangat ditentukan oleh kemampuan komunikator dalam berkomunikasi
dengan berupaya meningkatkan kemampuan diri tentang pengetahuan budaya,
psikologi dan apa saja yang berkaitan dengan status mitra komunikasinya yang
memiliki perbedaan budaya. Disamping juga memperhatikan konteks komunikasinya
secara umum, baik berupa ruang, nilai, norma dan status hubungan dengan mitra
komunkasinya.[6]
Mengutip pendapat para pakar, DeVito (2013) menyarikan beberapa hal
yang dapat menjadi panduan dalam mewujudkan komunikasi yang efektif, yaitu: (1)
mendidik diri sendiri misalnya dengan cara mengembangkan pengetahuan tentang
kebudayaan orang lain dan mengatasi ketakutan atau kecemasan yang muncul, (2)
mengenali perbedaan-perbedaan, yang terdiri dari beberapa hal seperti:
perbedaan antara diri sendiri dengan budaya lain, perbedaan di antara berbagai
kelompok kebudayaan, perbedaan dalam makna (kata), melawan streotip, mengurangi
etnosentrisme, dan menyesuaikan cara berkomunikasi.[7]
KESIMPULAN
Di era modern saat ini kita harus bisa mengfilter budaya yang berbeda
masuk dalam aktifitas kehidupan kita, apakah budaya tersebut baik atau bahkan menimbulkan
efek yang tidak baik. Kita juga harus bisa toleransi dan menghargai budaya
orang lain, meskipun budaya mereka bertentangan. Dalam komunikasi modern
seperti media sosial saat ini, perbedaan presepsi sangat banyak sekali yang
menimbulkan kesalah pahaman dan mengakibatkan perdebatan dan perpecahbelahan
kelompok-kelompok tertentu. Karena itu kita harus bisa memahami karakter dan
mencari tau latar belakang kehidupan, bahkan budaya mereka sebelum kita
menjelek-jelekkan dan menganggap kepercayaan kita yang paling benar.
REFERENSI
Chaney, Lilian,
Martin, Jeanette & Martin. Intercultural Business Communication.
(New Jersey: Pearson Education, Inc, Upper Saddle River, 2004), 11 dalam Jurnal
E-Komunikasi, ed. Alvin Sanjaya, (Surabaya, UKP Surabaya, tt), 254
Jandt, Fred.E.
dalam E-Jurnal Universitas Sebelas Maret, ed. Andriana Noro Iswari &
Pawito,. Surakarta; Universitas Sebelas Maret Surakarta, tt.
Liliweri, Allo.
Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: Lkis. 2003.
Moulita, HAMBATAN KOMUNIKASI
ANTARBUDAYA DI KALANGAN MAHASISWA, Jurnal Interaksi, Volume : 2, Nomor : 1,
Edisi Januari 2018
Mulyana, Deddy Dan
Rahmat, Jalaludin. Komunikasi Antar Budaya. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya. 2000.
Purwasito, Andrik.
Komunikasi Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2015.
Uha, Ismail
Nawawi. Komunikasi Lintas Budaya: Teori, Aplikasi dan Kasus Sosial Bisnis
dan Pembanguna. Jakarta Barat: Dwiputra Pustaka Jaya. 2012.
[1] Ismail Nawawi
Uha, Komunikasi Lintas Budaya: Teori, Aplikasi dan Kasus Sosial Bisnis dan
Pembangunan (Jakarta Barat: Dwiputra Pustaka Jaya, 2012), 11-12
[2] Chaney,
Lilian,Martin, Jeanette & Martin. Intercultural Business Communication.
(New Jersey: Pearson Education, Inc, Upper Saddle River, 2004), 11 dalam Jurnal
E-Komunikasi, ed. Alvin Sanjaya, (Surabaya, UKP Surabaya, tt), 254. Diakses pada
10 Juni 2021.
[3] Andrik
Purwasito, Komunikasi Multikultural, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2015), 322.
[4] Deddy Mulyana
Dan Jalaludin Rahmat. Komunikasi Antar Budaya, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2000), 70
[5] Jandt, Fred.E.
dalam E-Jurnal Universitas Sebelas Maret, ed. Andriana Noro Iswari &
Pawito, (Surakarta; Universitas Sebelas Maret Surakarta, tt), 7. Diakses pada
10 Juni 2021
[6] Allo Liliweri,
Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya, (Yogyakarta: Lkis, 2003),
224
[7] Moulita,
HAMBATAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DI KALANGAN MAHASISWA, Jurnal Interaksi, Volume
: 2, Nomor : 1, Edisi Januari 2018
Aktivitas Prilaku Verbal dan Non Verbal dalam
Oleh : Alfi Nurul Faridah
Prodi
Komunikasi dan Penyiaran Islam
Fakultas
Dakwah dan Komunikasi
UIN
Sunan Ampel Surabaya
Pendahuluan
Dakwah adalah komunikasi, akan tetapi
komunikasi belum tentu dakwah. Adapun yang membedakannya adalah terletak pada
isi dan orientasi pada kegiatan dakwah dan kegiatan komunikasi. Berbicara
mengenai dakwah adalah berbicara tentang komunikasi, karena komunikasi dalah
kegiatan informatif, yakni agar orang lain mengerti, mengetahui dan kegiatan persuasive.
Agar orang lain bersedia menerima suatu faham atau keyakinan, melakukan suatu
kegiatan atau perbuatan dan lain-lain. Keduanya (dakwah dan komunikasi)
merupakan bagian dari integral yang tidak dapat dipisahkan.
kebanyakan dalam peristiwa
komunikasi yang berlangsung, hampir selalu melibatkan penggunaan
lambang-lambang verbal dan non verbal secara bersama-sama. keduanya, bahasa verbal
dan non verbal, memiliki sifat yang tidak dapat dipisahkan. Dalam banyak
tindakan komunikasi , bahasa non verbal menjadi komplemen atau pelengkap bahasa
verbal. Lambang-lambang non verbal juga dapat berfungsi kontradiktif, pengulangan,
bahkan pengganti ungkapan-ungkapan verbal.
Pengertian Dakwah Dan Komunikasi Lintas Budaya
Secara etimologi bahasa perkataan da’wah
berasal dari kata kerja (da’a, yad’u, da’watan), yang berarti
mengajak, menyeru, memanggil, mengundang. Menurut Moh. Ali Aziz dalam bukunya
Ilmu Dakwah, mendefinisikan dakwah adalah segala bentuk aktivitas penyampaian
ajaran Islam kepada orang lain dengan berbagai cara yang bijaksana untuk
terciptanya individu dan masyarakat yang menghayati dan mengamalkan ajaran
Islam dalam semua lapangan kehidupan.
Sedangkan Komunikasi lintas budaya atau cross
cultural communication adalah bidang studi komunikasi yang memandang
bagaimana manusia yang berbeda latar belakang budaya berkomunikasi. Titik berat
komunikasi lintas budaya adalah proses komunikasi yang terjadi dalam berbagai
macam budaya yang berbeda. Komunikasi lintas budaya merupakan “pintu gerbang”
agar dapat memahami komunikasi antar budaya atau intercultural
communication.
Komunikasi Antarbudaya dengan
komunikasi lintas budaya melibatkan berbagai tingkat perbedaan keanggotaan
kelompok budaya. Komunikasi tersebut melibatkan penyandian simultan dan
menerjemahkan pesan verbal dan nonverbal dalam proses pertukaran makna. Banyak
komunikasi antar budaya melibatkan pertemuan makna yang berbeda atau bertolak
belakang.
Aktivitas Perilaku Verbal dalam Komunikasi
Proses komunikasi verbal merupakan kegiatan
interaksi penyampaian dan penerimaan pesan-pesan yang dilakukan melalui
percakapan dan sarana yang digunakan adalah bahasa dan kata-kata. Bahasa dan
kata-kata merupakan bagian penting dalam cara pengemasan pesan-pesan. Salah
satu fenomena yang mempengaruhi proses komunikasi lintas budaya adalah proses
komunikasi verbal. Pada dasarnya, bahasa verbal dan nonverbal tidak terlepas
dari konteks budaya. Tidak mungkin bahasa terpisah dari budaya. Setiap budaya
mempunyai system bahasa yang memungkinkan orang untuk berkomunikasi dengan orang
lain. Budaya dibentuk secara kultural, dan karena itu dia merefleksikan nilai-nilai
dari budaya.
Bahasa verbal. Bahasa menjadi alat utama yang
digunakan manusia untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan
bahasa dapat dikategorikan sebagai unsur kebudayaan yang berbentuk non-material
selain nilai, norma, dan kepercayaan. Simbol atau pesan verbal adalah semua
jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Yang lebih penting dari
bahasa adalah bagaimana memaknakan symbol atau tanda yang telah diorganisasikan
dalam system kebahasaan. Bahasa merupakan medium atau sarana bagi manusia yang
berpikir dan berkata tentang suatu gagasan sehingga boleh dikatakan bahwa
pengetahuan itu adalah bahasa (Liliweri, 1994:1-2).
Pada hakikatnya bahasa berhubungan langsung
dengan persepsi manusia, dan menggambarkan bagaimana ia menciptakan dunia dan
mewarnainya dengan symbol-simbol yang digunakannya. Fungsi utama dari bahasa adalah untuk
mengekspresikan ide-ide dan pemikaran seseorang secara jelas, secara logis, dan
persuasive. Pesan verbal menggunakan kata-kata yang merepresentasikan berbagai
aspek realitas yang ada pada diri seseorang. Jadi, kata-kata atau bahasa
terikat oleh konteks latar belakang sosial-budaya.
Menurut Hall (dalam Gudykunst dan Kim,
1992:72) mengatakan bahwa sikap kita terhadap bentuk-bentuk komunikasi verbal
dihubungkan dengan konteks yang relative penting dalam budaya. Contohnya: dalam
bahasa Asia, budaya konteks tinggi (seperti China, Jepang, dan Korea), struktur
bahasanya cenderung lebih bersifat ambigu karena dalam bahasa Jepang kata kerja
ditempatkan di belakang kalimat dan kemudian orang tidak bisa memahami apa yang
telah dikatakan sampai semua kalimat diucapkan. Salah satu aspek penting
komunikasi verbal yang harus diketahui sebelum kita melihat penggunaan bahasa
dalam berkomunikasi dengan orang asing adalah bagaimana strategi-strategi yang
digunakan orang untuk mendekati orang lain secara lintas budaya.
Menurut Larry L. Barker dalam Mulyana (2007),
bahasa memiliki 3 fungsi, diantaranya;
1. Penanaman (naming atau labeling).Penanaman
atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasi objek , tindakan, atau
orang dengan menyebut namanya, sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi .
2. Interaksi. Menurut barker, interaksi
menekankan berbagai gagasan dan emosi yang dapat mengundang simpati dan pengertian
atau kemarahan dan kebingungan. Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan
kepada orang lain.
3. Transmisi informasi. Kita juga
menerima informasi setiap hari, sejak bangun tidur hingga anda bangun kembali,
dari orang lain, baik secara langsung maupun tidak ( melalui media massa,
misalnya). Fungsi bahasa inilah yang disebut fungsi transmisi. Barker
berpandangan, keistimewaan bahasa sebagai transmisi informasi yang lintas
waktu, dengan menghubungkan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang,
memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita. Tanpa bahasa kita tidak
mungkin bertukar informasi, kita tidak mungkin menghadirkan semua objek dan
tempat untuk kita rujuk dalam komunikasi kita.
Aktivitas Perilaku non-Verbal dalam Komunikasi
Proses-proses verbal merupakan alat utama
untuk pertukaran pikiran dan gagasan, namun proses-proses ini sering dapat
diganti oleh proses-proses nonverbal. Kita mempersepsi manusia tidak hanya
lewat bahasa verbalnya; bagaimana bahasanya (halus, kasar, intelektual, mampu
berbahasa asing dan sebagainya), namun juga melalui perilaku non verbalnya.
Pentingnya perilaku non verbal ini misalnya dilukiskan dalam frase, “bukan apa
yang ia katakan tapi bagaimana ia mengatakannya”. Lewat perilaku non verbalnya,
kita dapat mengetahui suasana emosional seseorang, apakah ia bahagia, bingung
atau sedih.
Menurut Alo Liliweri (1994:139)
komunikasi nonverbal meliputi ekspresi wajah, nada suara, gerakan anggota
tubuh, kontak mata, rancangan ruang, pola-pola perabaan, gerakan ekspresif,
perbedaan budaya dan tindakan-tindakan nonverbal lain yang tidak menggunakan
kata-kata. Dalam proses-proses nonverbal yang relevan dengan komunikasi lintas
budaya, terdapat tiga aspek yang sangat berkaitan: perilaku nonverbal yang
berfungsi sebagai bentuk bahasa diam, konsep waktu, dan pengaturan ruang.
Sebenarnya sangat banyak aktivitas yang
merupakan perilaku non verbal ini, akan tetapi yang berhubungan dengan
komunikasi lintas budaya ini biasanya adalah sentuhan. Sentuhan sebagai bentuk
komunikasi dapat menunjukkan bagaimana komunikasi non verbal merupakan suatu
produk budaya. Di Jerman kaum wanita seperti juga kaum pria biasa berjabatan
tangan dalam pergaulan sosial; di Amerika Serikat kaum wanita jarang berjabatan
tangan. Di Muangthai, orang-orang tidak bersentuhan (berpegangan tangan dengan
lawan jenis) di tempat umum, dan memegang kepala seseorang merupakan suatu
pelanggaran sosial.
Contoh lain adalah kontak mata. Di Amerika
Serikat orang dianjurkan untuk mengadakan kontak mata ketika berkomunikasi. Di
Jepang kontak mata seringkali tidak penting. Dan beberapa suku Indian Amerika
mengajari anak-anak mereka bahwa kontak mata dengan orang yang lebih tua
merupakan tanda kekurangsopanan. Seorang guru sekolah kulit putih di suatu
pemukiman suku Indian tidak menyadari hal ini dan ia mengira bahwa
murid-muridnya tidak berminat bersekolah karena murid-muridnya tersebut tidak
pernah melihat kepadanya.
Sebagai suatau komponen budaya, ekspresi non
verbal mempunyai banyak persamaan dengan bahasa. Keduanya merupakan sistem
penyandian yang dipelajari dan diwariskan sebagai bagian pengalaman budaya.
Lambang-lambang non verbal dan respon-respon yang ditimbulkan lambang-lambang
tersebut merupakan bagian dari pengalaman budaya apa yang diwariskan dari suatu
generasi ke generasi lainnya. Setiap lambang memiliki makna karena orang
mempunyai pengalaman lalu tentang lambang tersebut. Budaya mempengaruhi dan
mengarahkan pengalaman-pengalaman itu, dan oleh karenanya budaya juga
mempengaruhi dan mengarahkan kita: bagaiman kita mengirim, menerima, dan
merspon lambang-lambang non verbal tersebut.
Sebagaimana aspek verbal, komunikasi
nonverbal juga tergantung atau ditentukan oleh kebudayaan, yaitu: kebudayaan
menentukan perilaku-perilaku nonverbal yang mewakili atau melambangkan
pemikiran, perasaan, keadaan tertentu dari komunikator dan kebudayaan
menentukan kapan waktu yang tepat atau layak untuk mengkomunikasikan pemikiran,
perasaan, keadaan internal. Jadi, walaupun perilaku-perilaku yang
memperlihatkan emosi ini banyak yang bersifat universal, tetapi ada
perbedaan-perbedaan kebudayaan dalam menentukan apa, oleh siapa dan dimana
emosi-emosi itu dapat diperlihatkan (Samovar, Porter dan Mc. Daniel, 2007:201)
Budaya dinyatakan dalam gaya
interaksi verbal dan nonverbal, misalnya melalui pepatah dan ungkapan, pranata
sosial, upacara, ceritera, agama, bahkan politik. Maka kekuatan komunikasi
ternyata tidak cukup sekedar mengirimkan atau mengalihkan pesan. Dukungan
nonverbal mempunyai kemampuan untuk melengkapi kekurangan dalam komunikasi
verbal.
REFERENSI
Aziz, Moh. Ali. Ilmu Dakwah. Ed.
Rev. Cet. 6. Jakarta: Kencana. 2004.
Liliweri, Alo. Komunikasi Verbal
dan Nonverbal. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. 1994.
Liliweri, Alo. Dasar-dasar
Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2004.
Mulyana, Deddy. Komunikasi Antar
Budaya. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2005.
Mulyana, Deddy. Komunikasi Efektif: Suatu Pendekatan
Lintas Budaya. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2005.
Munawwir, Ahmad Warson. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia
Terlengkap. Edisi Ke-2, Surabaya: Pustaka Progresif. 1997.
TUGAS UAS MINI BOOK ALFI NURUL FARIDAH NIM B71219058