BUDAYA DAN
KEARIFAN DAKWAH
Mempelajari komunikasi lintas budaya
adalah wajib karena itu merupakan tiket untuk kita agar mampu beradaptasi di
manapun kita berada, terutama di Indonesia di mana berbagai suku dan budaya
hidup berdampingan. Konflik berkepanjangan dapat terjadi jika seseorang tidak
memahami perbedaan-perbedaan yang ada dan tidak melakukan melakukan apapun
untuk komunikasi lintas budaya.
Dengan mempelajari komunikasi lintas
budaya, seseorang bisa memahami perbedaan dengan bersikap netral atau moderat.
Sehingga konflik yang timbul antar budaya etnis yang berbeda tidak akan
terjadi. Lebih lanjut, mempelajari komunikasi lintas budaya dapat membuat kita
lebih berhati-hati dalam membangun hubungan dengan budaya lain. Para pendakwah
harus memahami tempat, budaya, kebiasaan dan bahasa objek dakwahnya karena hal
tersebut menentukan kesuksesan dakwah yang dilakukannya.
A. DAKWAH ANTAR BUDAYA
Dalam dakwah, unsur dakwah meliputi dai, mad’u,
metode, materi, media. Dan dalam komunikasi, unsurnya dalah komunikator,
komunikan, pesan, media, dan efek. Keduanya hampir sama maknanya, hanya saja
dalam unsur dakwah, efek tidak dicantumkan. Namun pasti setiap komunikasi baik
dilakukan dengan kemasan dakwah, akan tetap meberikan efek tersendiri. Seorang
da’i, dituntut untuk bisa menyampaikan materi kepada mad’u secara gamblang dan
dapat diterima oleh mad’u, ini merupakan keharusan. Karena seorang da’i
dianggap berhasil apabila ia telah mampu memahamkan mad’u-nya. Dalam
komunikasi, hal ini disebut komunikasi efektif. Untuk memenuhi tuntutan
tersebut, seorang dai harus bisa memahami kondisi mad’u. Di sinilah letak
pentingnya komunikasi lintas budaya, karena dengan memahami budaya yang ada,
maka dakwah dapat dilaksanakan dengan baik.[1]
Salah satu metode yang digunakan dalam
berdakwah adalah dakwah bil hikmah, dakwah bil hikmah dilakukan dengan cara
yang arif dan bijaksana, yaitu melalui pendekatan sedemikian rupa sehingga
pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak
merasa ada paksaan, tekanan, mapun konflik. Inilah yang bisa diterapkan dalam
konsep dakwah lintas budaya.
Dakwah antar budaya merupakan proses dakwah
yang mempertimbangkan keragaman budaya antar da’i (subjek dakwah) dan mad’u
(objek dakwah), dan keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada
tingkat antar budaya, agar pesan dakwah dapat tersampaikan, dengan tetap
terpeliharanya situasi damai (Aripudin, 2012. 25).[2]
Dakwah antar budaya merupakan kajian proses
berdakwah mengajak seorang manusia untuk menyampaikan pesan-pesan agama Islam
dan perilaku Islami sesuai dengan konsep budaya yang berkembang di masyarakat.
Hakikat dakwah antar budaya itu bagaimana kita dalam berdakwah, menggunakan
budaya sebagai materi, metode, alat, dan strategi sesuai dengan kondisi budaya
sasaran dakwah (mad’u). Karena setiap orang, setiap tempat wilayah dan
lingkungan mempunyai kondisi sosial budaya yang berbeda-beda. Maka dalam
pendekatannya pun berbeda pula.
B. TEORI DAKWAH ANTARBUDAYA
Dakwah merupakan sebuah proses transformasi
nilai-nilai ajaran Islam kedalam masyarakat, oleh karena itu dakwah tidak akan
pernah berhenti untuk berinteraksi dengan budaya dari masyarakat itu sendiri.
Terdapat konsep dakwah yang mengedepankan cara-cara simpatik, bijaksana dan
lebih humanis (Pimay, 2005. 45).
Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kini telah
diwarnai oleh mobilitas sosial yang sangat tinggi. Terjadi akulturasi
(percampuran budaya) dan transkulturasi (tarik menarik antar budaya), sejalan
dengan kemajuan tekonologi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan yang
spektakuler adalah pada teknologi komunikasi, yang kemudian sangat mempengaruhi
pola dakwah masa kini. Secara tematik, ada beberapa jenis kegiatan dakwah di
masyarakat. Sebagian adalah pendalaman pengetahuan agama yang dilakukan secara
rutin dan terjadwal. Sebagian lagi adalah mengusung tema tertentu yang melekat
dengan pelaksanaan peringatan hari besar Islam, menyongsong event nasional dan
lainya.
Seperti pendekatan sosial dan budaya yang diterima
oleh masyarakat luas. Memperhatikan ruang dan waktu, topik-topiknya aktual,
menyentuh kebutuhan dasar mad’u dan isu-isu terkini dalam masyarakat.
Teori-teori dakwah antar budaya berusaha mengetahui karakter budaya suatu
masyarakat merupakan kunci utama dalam memahami dan mengembangkan dakwah antar
budaya. Rumusan konseptual hasil pengamatan terhadap proses pelaksanaan dakwah
baik diterima atau ditolak oleh mad’u. Menurut Acep Aripudin diperlukan
beberapa teori untuk membantu mengamati fenomena dakwah dari sisi analisis ilmu
sosial, yaitu
1. Resistance
theory (teori resistensi) atau teori penolakan.
Dasar asumsi teori ini adalah bahwa setiap
aktivitas dakwah akan selalu menghadapkan variabel da’i dan mad’u. Ketika
interaksi terjadi pertentangan bahkan sikap dan respons penolakan tidak
terelakan khususnya penolakan dari mad’u. Penolakan tersebut adalah konsekuensi
logis akibat proses difusi budaya dari budaya yang berbeda. Da’i menyampaikan
pesan-pesan dakwah yang termasuk baru bagi komunitas masyarakat tertentu. Maka
budaya baru itu jelas mengancam eksistensi budaya lama yang telah dipeluk
masyarakat sejak lama yang sudah berakar di kehidupannya. Umumnya mad’u menganggap
budaya baru itu aneh bahkan menyalahkan. Budaya baru itu terkadang berbentuk
gagasan, teori, dan tindakan yang teraktualisasi dalam proses interaksi
masyarakat. Apabila gagasan-gagasan baru itu tidak memiliki landasan kuat dan
tidak tersosialisasikan dalam pengalaman hidup, maka budaya baru itu mendapat
dukungan dari komponen masyarakat dan terisolasi secara terus-menerus maka
perlahan-lahan budaya baru itu, apa pun bentuknya akan diterima masyarakat.
2. Acculturation
theory (teori akulturasi) atau teori percampuran.
Era globalisasi tak hanya berpengaruh terhadap
pola komunikasi dan sisitem informasi, lebih dari itu, konsekuensi terjadinya
pembauran budaya global, baik ranah fisik maupun mental. Sarana tekhnologi
informasi dan transportasi telah mempermudah hubungan antar budaya semakin
cepat dan kuat. Dalam era informasi, hubungan antarmanusia tak hanya sebatas
satu wilayah antarnegara, tetapi mencakup manusia sejagat. Kemudahan hubungan
(relasi) dan interaksi antarsesama manusia dan berbagai komponen budaya menjadi
bagian dari hubungan dalam dakwah antar budaya. Dari landasan teori ini,
percampuran budaya karena interaksi manusia akan kehadiran bentuk budaya baru
merupakan keniscayaan. Setiap manusia, komponen bangsa penghuni bumi ini
memiliki kebudayaan, bahkan kebudayaan unggulan masing-masing anggota
masyarakat untuk saling tukar secara terus-menerus dalam proses kehidupannya.
3. Receptie theory (teori resepsi).
Menerima sepenuhnya atau menerima
sebagian gagasan budaya yang lain adalah landasan utama teori ini. Penerimaan
bisa terjadi karena gagasan dan budaya baru itu dianggap lebih baik dan
menjanjikan terhadap perbaikan nasib hidup masyarakat. Fakta sejarah pengalaman
ideal suatu masyarakat sering menjadi sandaran utama proses penerimaan terhadap
gagasan-gagasan dan budaya baru dalam teori resepsi. Kondisi sosial masyarakat
akan tampak lebih harmoni dan berjalan lebih terkendali karena terjadi
kesepahaman dan atau paksaan.
4. Complementery theory (teori komplementer)
Terjadi proses pertukaran antar budaya di
dunia berjalan dengan cepat sehingga memungkinkan terjadi gesekan dan perpaduan
budaya-budaya tersebut. Pada kenyataannya tak sepenuhnya suatu budaya
baru/budaya lain dapat diterima pihak suatu masyarakat dengan mulus bahkan bisa
terjadi penolakan. Akan tetapi lambat laun sebagian budaya luar dan baru itu
diterima, bahkan dijadikan model dalam hubungan interaksi antar masyarakat.
Antara budaya baru suatu masyarakat dan budaya lainnya bukan saling berbenturan
(clash culture), tetapi menjadi budaya yang saling mengisi (complementary
culture) (Aripudin, 2012. 19-22).
Dengan
teori-teori di atas, maka akan lebih membantu menganalisis berbagai proses
interaksi sosial dan dinamika dakwah yang menjadi realitas dalam masyarakat
multikultural (Aripudin, 2012. 19-22).
Fokus
kajian strategis kebudayaan dakwah Islam, hakikatnya memandang dakwah antar
budaya sebagai sebuah proses berpikir dan bertindak secara dialektis dengan
segala unsur-unsur dakwah dan budaya yang melingkupinya, demi tujuan dakwah,
yakni menciptakan sebuah masyarakat Islam. Strategi dakwah antar budaya
merupakan upaya aktif untuk menyatukan ide pikiran dan gerakan-gerakan dakwah
dengan mempertimbangkan keragaman sosial budaya yang melekat pada masyarakat.
Strategi ini membutuhkan perencanaan matang dan bijak tentang dakwah Islam
secara rasional untuk mencapai tujuan Islam dengan mempertimbangkan budaya
masyarakat, baik segi materi dakwah, metodologi maupun lingkungan tempat dakwah
berlangsung (Aripudin, 2012. 119)
DAFTAR PUSTAKA
Syarifah,
Masykurotus, BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH, Jurnal al-Bala,h, Vol. 1,
No. 1, Januari – Juni 2016, diakses pada 3 April 2021, http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/
[1] Masykurotus Syarifah, BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH, Jurnal
al-Bala,h, Vol. 1, No. 1, Januari – Juni 2016, diakses pada 25 Juni
2021, http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/
[2]
Ibid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar