Senin, 19 April 2021

DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTAR ETNIK, RAS DAN BANGSA

STRATEGI DAKWAH ANTAR ETNIK, RAS DAN BANGSA


Bangsa Indonesia memiliki beraneka ragam suku bangsa (etnik) yang telah melahirkan keanekaragaman budaya. Budaya-budaya ini hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat sehingga menjadi ciri khas atau identitas dari masyarakat yang mendiami wilayah tanah leluhurnya. Beragamnya budaya bangsa Indonesia dapat dilihat dari susunan pulau-pulau dan bahasa yang di pakai oleh berbagai suku dan etnik.

Keberagaman budaya dan etnik ini adalah suatu kekayaan bangsa yang besar. Namun, kekayaan bangsa Indonesia yang sangat beragama dan menjadi bangsa yang multikultural ini justru akan menjadi sebuah bumerang, di mana masyarakat saling menyudukan antar sesama dengan alasan adanya perbedaan kelompok.[1] Komunikasi adalah salah satu syarat terjadinya interaksi, yang merupakan hal penting dalam kehidupan karena menunjang interaksi sosial.[2]

Mereka saling berinteraksi baik secara langsung mupun melalui media massa karena dewasa ini perkembangan dunia saat ini menuju ke arah “desa dunia” (global village) yang hampir tidak memiliki batas-batas lagi sebagai akibat dari perkembangan teknologi modern, khususnya teknologi komunikasi. Seiring dengan kemajuan tersebut terjadi pula proses pertukaran nilai-nilai sosial budaya sehingga hal ini menimbulkan persepsi bahwa komunikasi antarbudaya saat ini sangat penting dibandingkan masa-masa sebelumnya.[3]

Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang memiliki derajat kebudayaan yang berbeda, misalnya antar suku bangsa, antar etnik dan ras, antar kelas sosial dan lain-lain. Kebudayaan dalam konteks komunikasi antarbudaya mempengaruhi perilaku komunikasi orang-orang yang hidup dalam suatu budaya tertentu.[4]

Beragam budaya, agama, etnis dan golongan membutuhkan model pengelolaan yang sesuai supaya dakwah tidak melenceng dari cita-cita luhurnya. Substansi dakwah multikulturalisme dikembangkan sebagai respon atas kondisi yang dilatarbelakangi oleh keragaman budaya atau masyarakat multikultural, utama masyarakat yang sudah maju. Dakwah mengakui adanya perbedaan mad’u secara individu dan budaya, diantaranya:

1.  Dakwah mengangap bahwa masing- masing mad’u mempunyai perbedaan derajat sesuai dengan kedudukan dan prestasinya.

2.      Dakwah perlu menumbuhkan interaksi antara mad’u melalui cara konfensional dan komunikasi.

3.  Dakwah perlu mendorong tumbuhnya sikap menghormati dan menghargai perbedaan masing- masing mad’u untuk mewujudkan keadilan.

Seorang Da’i atau Mubaligh harus memiliki strategi dalam berdakwah, apalagi berdakwah dimasyarakat multikultural yang memiliki perbedaan budaya atau presepsi. Pertama, Mubalig penting mengetahui terlebih dahulu tentang kondisi sosial mad’u sebelum melakukan kegiatan berdakwah. Kedua, Mubaligh sayogyanya mempertimbangkan kondisi sosial mad’u dalam menentukan materi dakwah yang relevan, metode dakwah, media dakwah. Ketiga, Mubaligh dalam memberikan materinya, dengan cara memberikan pilihandan problem solving, dari pada menggurui, menyalahkan dan mencacimaki.

Dakwah multikulturalime secara konsepsional mempunyai dua pandangan dengan makna yang saling berkatian. Pertama, multikultural sebagai kondisi kemajemukan kebudayaan atau pluralisme budaya dari suatu masyarakat. Kondisi ini diasumsikan dapat membentuk sikap toleransi. Kedua, multikulturalisme merupakan seperangkat kebijakan pemerintah pusat yang dirancang sedemikian rupa agar seluruh masyarakat dapat memberikan perhatian kepada kebudayaan dari semua kelompok etnik atau suku bangsa. Hal ini beralasan, karena bagaimanapun juga, semua kelompok etnik atau suku bangsa telah memberi kontribusi bagi pembentukan dan pembangunan suatu bangsa.

Dalam kaitan dengan kebijakan kedakwahan, multikulturalisme merupakan konsep sosial yang diitrodusir ke dalam kegiatan dakwah. Jadi Dakwah berwawasan multikultural, merupakan kebijakan dakwah yang mampu mengayomi setiap kelompok dan mengapresiasi perbedaan kultur di masyarakat. Setiap kebijakan dakwah diharapkan mampu mendorong lahirnya sikap apresiatif, toleransi, prinsip kesetaraan antar budaya,  kesetaraan gender, kesetaraan antar berbagai kelompok etnik, kesetaraan bahasa, agama dan sebagainya.

 

 

REFERENSI

Susetyo, D.P.B,. Stereotip dan Relasi Antar Kelompok. Yogyakarta: Graha Ilmu. 2010.

Desideria. Komunikasi Antar budaya. (Jakarta: Universitas Terbuka, 2011), h. 14

Rozi,Fachrur. Kontroversi Dakwah Inklusif.  Jurnal Ilmu Dakwah. Vol. 27, No. 1, Januari-Juni, Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang. 2007

Romomdor, Alex H dkk,. Komunikasi Antar Budaya. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. 2011.

 

 



[1] Susetyo, D.P.B, Stereotip dan Relasi Antar Kelompok, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), h 1.

[2] Desideria, Komunikasi Antar budaya, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2011), h. 14

[3] Fachrur Rozi,“Kontroversi Dakwah Inklusif”dalam Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 27, No. 1, Januari-Juni, Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang, 2007, h. 34

[4] Alex H Romomdor dkk, Komunikasi Antar Budaya, (Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2011), h. 117

Senin, 05 April 2021

TUJUAN, FUNGSI & PERAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

 

Pentingnya Da’i Memahami Peran Dakwah Komunikasi Antar Budaya

Komunikasi antar budaya itu apa sih? apa pentingnya peran dakwah dalam komunikasi antar budaya? Lalu apa tujuan dan fungsi dakwah dalam komunikasi antar budaya??. Nah perlu diketahui, sebagai seorang da'i (komunikator) kita harus bisa mengetahui latar belakang mad'u (komunikan) terlebuh dahulu sebelum berdakwah. Agar pesan dakwah yang kita sampaikan tepat sasaran dan bisa diterima dengan baik tanpa ada unsur paksaan sedikitpun. Esensi dakwah berperan untuk mengubah segala penyembahan kepada selain Allah kepada keyakinan tauhid, mengubah semua jenis kondisi kehidupan yang timpang kearah kondisi yang penuh dengan ketenangan batin dan kesejahtraan lahir berdasarkan nilai-nilai Islam.

Komunikasi antar budaya dalam masyarakat plural tidak terlepas dari peran dakwah Islam yang pada hakikatnya adalah upaya untuk mengubah seseorang, sekelompok orang, atau suatu masyarakat menuju keadaan yang lebih baik sesuai dengan perintah Allah SWT dan tuntunan Rosul-Nya.[1] Kebanyakan komunikasi gagal akibat faktor ketidak pahaman akan budaya. Sementara itu noise yang paling berpengaruh dalam proses komunikasi adalah budaya. Komunikasi antar budaya mencoba untuk melakukan pendekatan-pendekatan dengan berbagai cara, seperti psikologis, sosiologi, kritik budaya, dialog budaya dan lain lain. (Mulyana, 2001. 12).

Berbicara hubungan antara budaya dan komunikasi sangat penting dipahami, karena terjadinya persepsi yang keliru atau pemberian makna yang berbeda pada objek sosial atau suatu pristiwa perlu dihindari. Budaya adalah suatu pola hidup yang menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan prilaku komunikatif tetapi ada unsur sosial budaya yang mempunyai pengaruh besar dalam membangun persepsi, yang dimaksudkan yaitu, pertama sistem-sistem  kepercayaan (belief), nilai (value), sikap (attitude), kedua, pandangan (world view), dan ketiga, organisasi sosial (social organization). (Muhammad Thalhah Hasan, 2003: 21).[2]

Menurut teori komunikasi antar budaya, Edward T. Hall, komunikasi dan budaya memiliki hubungan sangat erat. Menurutnya, communication is culture and culture is communication. Hall terlebih dahulu membedakan budaya konteks tinggi (high context culture) seperti kebanyakan pesan yang bersifat implisit, tidak langsung dan tidak terus terang,  dengan budaya konteks rendah (low context culture) seperti pesan verbal dan eksplisit, gaya bicara langsung lugas dan berterus terang.[3]

Orang-orang berbudaya konteks tinggi lebih menyadari proses penyaringan budaya daripada orang-orang berbudaya konteks rendah. Dalam kaitannya dengan aktivitas dakwah, pengkajiannya dengan pendekatan komunikasi konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah. Bagaimana para da’i melakukan tugasnya sebagai pengayom masyarakat, penyelamat masyarakat dan memajukan masyarakat dengan pendekatan-pendekatan yang lebih dekat dan ramah dengan budaya yang dianut masyarakat setempat (Aripuddin, 2011. 16).

Menurut litvin tujuan dan fungsi dari komunikasi antar budaya bersifat kognitif dan afektif, yaitu mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan sisi komunikasi itu sendiri. Dalam segi fungsi, dakwah adalah ilmu yang mengkaji tentang mengajak umat manusia kepada jalan Allah yang dibangun dan dikembangkan dengan metode ilmiah sehingga dapat berfungsi dalam rangka memahami, memprediksi (prediction), menjelaskan (explanation), dan mengontrol (control) berbagai fenomena dan persoalan yang terkait dengan dakwah.[4]

Tujuan dakwah dalam komunikasi antar budaya dengan menggunakan metode dakwah yang tidak menghapus budaya atau tradisi lama menjadikan diterimanya ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat. Islam lebih fleksibel dan mudah diterima oleh semua lapisan masyarakat meskipun memiliki perbedaan antara satu sama lain. Fungsi dakwah dalam komunikasi antar budaya, diantaranya, adalah :

1.      Mengajarkan dan mengenalkan nilai-nilai ajaran Islam kepada budaya masyarakat.

2.      Menjelaskan secara sistematis fenomena yang berkembang berkaitan dengan proses dakwah.

3.      Menjadi perantara dalam proses berkomunikasi antar budaya.

4.   Mengawasi praktik komunikasi antar budaya antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan.

Karateristik agama Islam dalam visi keagamaannya bersifat toleran, pemaaf, tidak memaksakan, dan saling menghargai karena dalam pluralitas agama tersebut terdapat unsur kesamaan yaitu pengabdian kepada Tuhan. Seperti yang dijelaskan dalam Al-qur'an 

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Q.S Al-Baqarah Ayat 256).

Sebagai makhluk yang berbudaya, maka misi dakwah melalui pendekatan dakwah antar budaya manusia selalu hidup bersama dan tidak dapat hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Sejak lahir manusia selalu berinteraksi dengan orang lain. ini dapat dilihat dalam kehidupan kita sehari-hari, semua kegiatan yang dilakukan manusia selalu berhubungan dengan orang lain. 

Sebagaimana agama Islam memberi banyak petunjuk dalam hal dakwah antar budaya, kalau dalam Islam kita kenal dengan istilah ukhuwah Islamiah, suatu ikatan persaudaraan tidak hanya kepada sesama muslim akan tetapi lebih dari itu kepada non muslim sekalipun kita juga diharapkan selalu bersikap baik saling menghormati satu sama lain dan ini akan menumbuhkan dakwah antar budaya semakin terasa. (Amin, 2009:215).[5]


 Review Video YouTube

Bahasa merupakan refleksi dari nilai budaya. Menurut Samovar at all  (2010), Ada tiga fungsi bahasa yang berkaitan dengan budaya, diantaranya:

1.      Communication exchange (pertukaran komunikasi)

2.      Language and identity (petunjuk identitas), misalnya seperti bahasa dari berbagai negara yang digunakan untuk menunjukkan identitas negara tersebut. Jepang menggunakan bahasa Jepang, Korea menggunakan bahasa Korea, dan sedangkan Malaysia menggunakan bahasa Melayu dan lain sebagainya, terutama Indonesia menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama.

3.      Language and unity (bahasa sebagai pemersatu), di sumpah pemuda juga disebutkan bahwa bahasa kita yang satu yaitu bahasa Indonesia meskipun banyak bahasa daerah yang berbeda-beda.

Komunikasi Dakwah, Apa sih yang membedakan antara komunikasi dan dakwah?. Jadi komunikasi adalah suatu proses dimana seseorang, beberapa orang, kelompok organisasi dan masyarakat menciptakan dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain. Sedangkan dakwah adalah bentuk komunikasi yang berupa pesan ajakan kepada jalan Tuhan atau ajakan berbuat baik dan meninggalkan segala keburukan. Jadi komunikasi dakwah terdiri dari 2 kata yaitu komunikasi yang berarti pesan dan dakwah yang berarti ajakan kepada Tuhan. Dalam firman Allah SWT

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (Q.S An Nahl ayat 125).

REFERENSI

Ahmad, Nur, MEWUJUDKAN DAKWAH ANTAR BUDAYA DALAM PERSPEKTIF ISLAM, AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, Vol. 3, No.1 Juni 2015, diakses pada 3 April 2021, https://journal.iainkudus.ac.id/

Rahman P., Abd. PERANAN DAKWAH DAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM MASYARAKAT PLURAL, Jurnal Al-Munzir, Vol. 7, No. 1, Mei 2014, diakses pada 3 April 2021,  http://download.garuda.ristekdikti.go.id/

Syarifah, Masykurotus, BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH, Jurnal al-Bala,h, Vol. 1, No. 1, Januari – Juni 2016, diakses pada 3 April 2021, http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/

 



[1] Abd. Rahman P., PERANAN DAKWAH DAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM MASYARAKAT PLURAL, Jurnal Al-Munzir, Vol. 7, No. 1, Mei 2014, diakses pada 3 April 2021,  http://download.garuda.ristekdikti.go.id/

[2] Ibid.,

[3] Masykurotus Syarifah, BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH, Jurnal al-Balagh, Vol. 1, No. 1, Januari – Juni 2016, diakses pada 3 April 2021, http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/

[4] Ibid.,

[5] Nur Ahmad, MEWUJUDKAN DAKWAH ANTAR BUDAYA DALAM PERSPEKTIF ISLAM, AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, Vol. 3, No.1 Juni 2015, diakses pada 3 April 2021, https://journal.iainkudus.ac.id/

MINI BOOK DAKWAH MULTIKULTURAL & KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

TUGAS UAS MINI BOOK ALFI NURUL FARIDAH NIM B71219058