Minggu, 30 Mei 2021

Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah.

Aktivitas Prilaku Verbal dan Non Verbal dalam Komunikasi Lintas Budaya 

 


Oleh : Alfi Nurul Faridah

Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Fakultas Dakwah dan Komunikasi

UIN Sunan Ampel Surabaya 

 

Pendahuluan

Dakwah adalah komunikasi, akan tetapi komunikasi belum tentu dakwah. Adapun yang membedakannya adalah terletak pada isi dan orientasi pada kegiatan dakwah dan kegiatan komunikasi. Berbicara mengenai dakwah adalah berbicara tentang komunikasi, karena komunikasi dalah kegiatan informatif, yakni agar orang lain mengerti, mengetahui dan kegiatan persuasive. Agar orang lain bersedia menerima suatu faham atau keyakinan, melakukan suatu kegiatan atau perbuatan dan lain-lain. Keduanya (dakwah dan komunikasi) merupakan bagian dari integral yang tidak dapat dipisahkan.

kebanyakan dalam peristiwa komunikasi yang berlangsung, hampir selalu melibatkan penggunaan lambang-lambang verbal dan non verbal secara bersama-sama. keduanya, bahasa verbal dan non verbal, memiliki sifat yang tidak dapat dipisahkan. Dalam banyak tindakan komunikasi , bahasa non verbal menjadi komplemen atau pelengkap bahasa verbal. Lambang-lambang non verbal juga dapat berfungsi kontradiktif, pengulangan, bahkan pengganti ungkapan-ungkapan verbal.

Pengertian Dakwah Dan Komunikasi Lintas Budaya

Secara etimologi bahasa perkataan da’wah berasal dari kata kerja (da’a, yad’u, da’watan), yang berarti mengajak, menyeru, memanggil, mengundang. Menurut Moh. Ali Aziz dalam bukunya Ilmu Dakwah, mendefinisikan dakwah adalah segala bentuk aktivitas penyampaian ajaran Islam kepada orang lain dengan berbagai cara yang bijaksana untuk terciptanya individu dan masyarakat yang menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dalam semua lapangan kehidupan.

Sedangkan Komunikasi lintas budaya atau cross cultural communication adalah bidang studi komunikasi yang memandang bagaimana manusia yang berbeda latar belakang budaya berkomunikasi. Titik berat komunikasi lintas budaya adalah proses komunikasi yang terjadi dalam berbagai macam budaya yang berbeda. Komunikasi lintas budaya merupakan “pintu gerbang” agar dapat memahami komunikasi antar budaya atau intercultural communication.

Komunikasi Antarbudaya dengan komunikasi lintas budaya melibatkan berbagai tingkat perbedaan keanggotaan kelompok budaya. Komunikasi tersebut melibatkan penyandian simultan dan menerjemahkan pesan verbal dan nonverbal dalam proses pertukaran makna. Banyak komunikasi antar budaya melibatkan pertemuan makna yang berbeda atau bertolak belakang.

Aktivitas Perilaku Verbal dalam Komunikasi

Proses komunikasi verbal merupakan kegiatan interaksi penyampaian dan penerimaan pesan-pesan yang dilakukan melalui percakapan dan sarana yang digunakan adalah bahasa dan kata-kata. Bahasa dan kata-kata merupakan bagian penting dalam cara pengemasan pesan-pesan. Salah satu fenomena yang mempengaruhi proses komunikasi lintas budaya adalah proses komunikasi verbal. Pada dasarnya, bahasa verbal dan nonverbal tidak terlepas dari konteks budaya. Tidak mungkin bahasa terpisah dari budaya. Setiap budaya mempunyai system bahasa yang memungkinkan orang untuk berkomunikasi dengan orang lain. Budaya dibentuk secara kultural, dan karena itu dia merefleksikan nilai-nilai dari budaya.

Bahasa verbal. Bahasa menjadi alat utama yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan bahasa dapat dikategorikan sebagai unsur kebudayaan yang berbentuk non-material selain nilai, norma, dan kepercayaan. Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Yang lebih penting dari bahasa adalah bagaimana memaknakan symbol atau tanda yang telah diorganisasikan dalam system kebahasaan. Bahasa merupakan medium atau sarana bagi manusia yang berpikir dan berkata tentang suatu gagasan sehingga boleh dikatakan bahwa pengetahuan itu adalah bahasa (Liliweri, 1994:1-2).

Pada hakikatnya bahasa berhubungan langsung dengan persepsi manusia, dan menggambarkan bagaimana ia menciptakan dunia dan mewarnainya dengan symbol-simbol yang digunakannya. Fungsi utama dari bahasa adalah untuk mengekspresikan ide-ide dan pemikaran seseorang secara jelas, secara logis, dan persuasive. Pesan verbal menggunakan kata-kata yang merepresentasikan berbagai aspek realitas yang ada pada diri seseorang. Jadi, kata-kata atau bahasa terikat oleh konteks latar belakang sosial-budaya.

Menurut Hall (dalam Gudykunst dan Kim, 1992:72) mengatakan bahwa sikap kita terhadap bentuk-bentuk komunikasi verbal dihubungkan dengan konteks yang relative penting dalam budaya. Contohnya: dalam bahasa Asia, budaya konteks tinggi (seperti China, Jepang, dan Korea), struktur bahasanya cenderung lebih bersifat ambigu karena dalam bahasa Jepang kata kerja ditempatkan di belakang kalimat dan kemudian orang tidak bisa memahami apa yang telah dikatakan sampai semua kalimat diucapkan. Salah satu aspek penting komunikasi verbal yang harus diketahui sebelum kita melihat penggunaan bahasa dalam berkomunikasi dengan orang asing adalah bagaimana strategi-strategi yang digunakan orang untuk mendekati orang lain secara lintas budaya.

Menurut Larry L. Barker dalam Mulyana (2007), bahasa memiliki 3 fungsi, diantaranya;

1.    Penanaman (naming atau labeling).Penanaman atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasi objek , tindakan, atau orang dengan menyebut namanya, sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi .

2.    Interaksi. Menurut barker, interaksi menekankan berbagai gagasan dan emosi yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan. Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain.

3.    Transmisi informasi. Kita juga menerima informasi setiap hari, sejak bangun tidur hingga anda bangun kembali, dari orang lain, baik secara langsung maupun tidak ( melalui media massa, misalnya). Fungsi bahasa inilah yang disebut fungsi transmisi. Barker berpandangan, keistimewaan bahasa sebagai transmisi informasi yang lintas waktu, dengan menghubungkan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang, memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita. Tanpa bahasa kita tidak mungkin bertukar informasi, kita tidak mungkin menghadirkan semua objek dan tempat untuk kita rujuk dalam komunikasi kita.

Aktivitas Perilaku non-Verbal dalam Komunikasi

Proses-proses verbal merupakan alat utama untuk pertukaran pikiran dan gagasan, namun proses-proses ini sering dapat diganti oleh proses-proses nonverbal. Kita mempersepsi manusia tidak hanya lewat bahasa verbalnya; bagaimana bahasanya (halus, kasar, intelektual, mampu berbahasa asing dan sebagainya), namun juga melalui perilaku non verbalnya. Pentingnya perilaku non verbal ini misalnya dilukiskan dalam frase, “bukan apa yang ia katakan tapi bagaimana ia mengatakannya”. Lewat perilaku non verbalnya, kita dapat mengetahui suasana emosional seseorang, apakah ia bahagia, bingung atau sedih.

Menurut Alo Liliweri (1994:139) komunikasi nonverbal meliputi ekspresi wajah, nada suara, gerakan anggota tubuh, kontak mata, rancangan ruang, pola-pola perabaan, gerakan ekspresif, perbedaan budaya dan tindakan-tindakan nonverbal lain yang tidak menggunakan kata-kata. Dalam proses-proses nonverbal yang relevan dengan komunikasi lintas budaya, terdapat tiga aspek yang sangat berkaitan: perilaku nonverbal yang berfungsi sebagai bentuk bahasa diam, konsep waktu, dan pengaturan ruang.

Sebenarnya sangat banyak aktivitas yang merupakan perilaku non verbal ini, akan tetapi yang berhubungan dengan komunikasi lintas budaya ini biasanya adalah sentuhan. Sentuhan sebagai bentuk komunikasi dapat menunjukkan bagaimana komunikasi non verbal merupakan suatu produk budaya. Di Jerman kaum wanita seperti juga kaum pria biasa berjabatan tangan dalam pergaulan sosial; di Amerika Serikat kaum wanita jarang berjabatan tangan. Di Muangthai, orang-orang tidak bersentuhan (berpegangan tangan dengan lawan jenis) di tempat umum, dan memegang kepala seseorang merupakan suatu pelanggaran sosial.

Contoh lain adalah kontak mata. Di Amerika Serikat orang dianjurkan untuk mengadakan kontak mata ketika berkomunikasi. Di Jepang kontak mata seringkali tidak penting. Dan beberapa suku Indian Amerika mengajari anak-anak mereka bahwa kontak mata dengan orang yang lebih tua merupakan tanda kekurangsopanan. Seorang guru sekolah kulit putih di suatu pemukiman suku Indian tidak menyadari hal ini dan ia mengira bahwa murid-muridnya tidak berminat bersekolah karena murid-muridnya tersebut tidak pernah melihat kepadanya.

Sebagai suatau komponen budaya, ekspresi non verbal mempunyai banyak persamaan dengan bahasa. Keduanya merupakan sistem penyandian yang dipelajari dan diwariskan sebagai bagian pengalaman budaya. Lambang-lambang non verbal dan respon-respon yang ditimbulkan lambang-lambang tersebut merupakan bagian dari pengalaman budaya apa yang diwariskan dari suatu generasi ke generasi lainnya. Setiap lambang memiliki makna karena orang mempunyai pengalaman lalu tentang lambang tersebut. Budaya mempengaruhi dan mengarahkan pengalaman-pengalaman itu, dan oleh karenanya budaya juga mempengaruhi dan mengarahkan kita: bagaiman kita mengirim, menerima, dan merspon lambang-lambang non verbal tersebut.

Sebagaimana aspek verbal, komunikasi nonverbal juga tergantung atau ditentukan oleh kebudayaan, yaitu: kebudayaan menentukan perilaku-perilaku nonverbal yang mewakili atau melambangkan pemikiran, perasaan, keadaan tertentu dari komunikator dan kebudayaan menentukan kapan waktu yang tepat atau layak untuk mengkomunikasikan pemikiran, perasaan, keadaan internal. Jadi, walaupun perilaku-perilaku yang memperlihatkan emosi ini banyak yang bersifat universal, tetapi ada perbedaan-perbedaan kebudayaan dalam menentukan apa, oleh siapa dan dimana emosi-emosi itu dapat diperlihatkan (Samovar, Porter dan Mc. Daniel, 2007:201)

Budaya dinyatakan dalam gaya interaksi verbal dan nonverbal, misalnya melalui pepatah dan ungkapan, pranata sosial, upacara, ceritera, agama, bahkan politik. Maka kekuatan komunikasi ternyata tidak cukup sekedar mengirimkan atau mengalihkan pesan. Dukungan nonverbal mempunyai kemampuan untuk melengkapi kekurangan dalam komunikasi verbal.

 

REFERENSI

Aziz, Moh. Ali. Ilmu Dakwah. Ed. Rev. Cet. 6. Jakarta: Kencana. 2004.

Liliweri, Alo. Komunikasi Verbal dan Nonverbal. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. 1994.

Liliweri, Alo. Dasar-dasar Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2004.

Mulyana, Deddy. Komunikasi Antar Budaya. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2005.

Mulyana, Deddy. Komunikasi Efektif: Suatu Pendekatan Lintas Budaya. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2005.

Munawwir, Ahmad Warson. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap. Edisi Ke-2, Surabaya: Pustaka Progresif. 1997.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MINI BOOK DAKWAH MULTIKULTURAL & KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

TUGAS UAS MINI BOOK ALFI NURUL FARIDAH NIM B71219058