Aktivitas Prilaku Verbal dan Non Verbal dalam
Oleh : Alfi Nurul Faridah
Prodi
Komunikasi dan Penyiaran Islam
Fakultas
Dakwah dan Komunikasi
UIN
Sunan Ampel Surabaya
Pendahuluan
Dakwah adalah komunikasi, akan tetapi
komunikasi belum tentu dakwah. Adapun yang membedakannya adalah terletak pada
isi dan orientasi pada kegiatan dakwah dan kegiatan komunikasi. Berbicara
mengenai dakwah adalah berbicara tentang komunikasi, karena komunikasi dalah
kegiatan informatif, yakni agar orang lain mengerti, mengetahui dan kegiatan persuasive.
Agar orang lain bersedia menerima suatu faham atau keyakinan, melakukan suatu
kegiatan atau perbuatan dan lain-lain. Keduanya (dakwah dan komunikasi)
merupakan bagian dari integral yang tidak dapat dipisahkan.
kebanyakan dalam peristiwa
komunikasi yang berlangsung, hampir selalu melibatkan penggunaan
lambang-lambang verbal dan non verbal secara bersama-sama. keduanya, bahasa verbal
dan non verbal, memiliki sifat yang tidak dapat dipisahkan. Dalam banyak
tindakan komunikasi , bahasa non verbal menjadi komplemen atau pelengkap bahasa
verbal. Lambang-lambang non verbal juga dapat berfungsi kontradiktif, pengulangan,
bahkan pengganti ungkapan-ungkapan verbal.
Pengertian Dakwah Dan Komunikasi Lintas Budaya
Secara etimologi bahasa perkataan da’wah
berasal dari kata kerja (da’a, yad’u, da’watan), yang berarti
mengajak, menyeru, memanggil, mengundang. Menurut Moh. Ali Aziz dalam bukunya
Ilmu Dakwah, mendefinisikan dakwah adalah segala bentuk aktivitas penyampaian
ajaran Islam kepada orang lain dengan berbagai cara yang bijaksana untuk
terciptanya individu dan masyarakat yang menghayati dan mengamalkan ajaran
Islam dalam semua lapangan kehidupan.
Sedangkan Komunikasi lintas budaya atau cross
cultural communication adalah bidang studi komunikasi yang memandang
bagaimana manusia yang berbeda latar belakang budaya berkomunikasi. Titik berat
komunikasi lintas budaya adalah proses komunikasi yang terjadi dalam berbagai
macam budaya yang berbeda. Komunikasi lintas budaya merupakan “pintu gerbang”
agar dapat memahami komunikasi antar budaya atau intercultural
communication.
Komunikasi Antarbudaya dengan
komunikasi lintas budaya melibatkan berbagai tingkat perbedaan keanggotaan
kelompok budaya. Komunikasi tersebut melibatkan penyandian simultan dan
menerjemahkan pesan verbal dan nonverbal dalam proses pertukaran makna. Banyak
komunikasi antar budaya melibatkan pertemuan makna yang berbeda atau bertolak
belakang.
Aktivitas Perilaku Verbal dalam Komunikasi
Proses komunikasi verbal merupakan kegiatan
interaksi penyampaian dan penerimaan pesan-pesan yang dilakukan melalui
percakapan dan sarana yang digunakan adalah bahasa dan kata-kata. Bahasa dan
kata-kata merupakan bagian penting dalam cara pengemasan pesan-pesan. Salah
satu fenomena yang mempengaruhi proses komunikasi lintas budaya adalah proses
komunikasi verbal. Pada dasarnya, bahasa verbal dan nonverbal tidak terlepas
dari konteks budaya. Tidak mungkin bahasa terpisah dari budaya. Setiap budaya
mempunyai system bahasa yang memungkinkan orang untuk berkomunikasi dengan orang
lain. Budaya dibentuk secara kultural, dan karena itu dia merefleksikan nilai-nilai
dari budaya.
Bahasa verbal. Bahasa menjadi alat utama yang
digunakan manusia untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan
bahasa dapat dikategorikan sebagai unsur kebudayaan yang berbentuk non-material
selain nilai, norma, dan kepercayaan. Simbol atau pesan verbal adalah semua
jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Yang lebih penting dari
bahasa adalah bagaimana memaknakan symbol atau tanda yang telah diorganisasikan
dalam system kebahasaan. Bahasa merupakan medium atau sarana bagi manusia yang
berpikir dan berkata tentang suatu gagasan sehingga boleh dikatakan bahwa
pengetahuan itu adalah bahasa (Liliweri, 1994:1-2).
Pada hakikatnya bahasa berhubungan langsung
dengan persepsi manusia, dan menggambarkan bagaimana ia menciptakan dunia dan
mewarnainya dengan symbol-simbol yang digunakannya. Fungsi utama dari bahasa adalah untuk
mengekspresikan ide-ide dan pemikaran seseorang secara jelas, secara logis, dan
persuasive. Pesan verbal menggunakan kata-kata yang merepresentasikan berbagai
aspek realitas yang ada pada diri seseorang. Jadi, kata-kata atau bahasa
terikat oleh konteks latar belakang sosial-budaya.
Menurut Hall (dalam Gudykunst dan Kim,
1992:72) mengatakan bahwa sikap kita terhadap bentuk-bentuk komunikasi verbal
dihubungkan dengan konteks yang relative penting dalam budaya. Contohnya: dalam
bahasa Asia, budaya konteks tinggi (seperti China, Jepang, dan Korea), struktur
bahasanya cenderung lebih bersifat ambigu karena dalam bahasa Jepang kata kerja
ditempatkan di belakang kalimat dan kemudian orang tidak bisa memahami apa yang
telah dikatakan sampai semua kalimat diucapkan. Salah satu aspek penting
komunikasi verbal yang harus diketahui sebelum kita melihat penggunaan bahasa
dalam berkomunikasi dengan orang asing adalah bagaimana strategi-strategi yang
digunakan orang untuk mendekati orang lain secara lintas budaya.
Menurut Larry L. Barker dalam Mulyana (2007),
bahasa memiliki 3 fungsi, diantaranya;
1. Penanaman (naming atau labeling).Penanaman
atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasi objek , tindakan, atau
orang dengan menyebut namanya, sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi .
2. Interaksi. Menurut barker, interaksi
menekankan berbagai gagasan dan emosi yang dapat mengundang simpati dan pengertian
atau kemarahan dan kebingungan. Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan
kepada orang lain.
3. Transmisi informasi. Kita juga
menerima informasi setiap hari, sejak bangun tidur hingga anda bangun kembali,
dari orang lain, baik secara langsung maupun tidak ( melalui media massa,
misalnya). Fungsi bahasa inilah yang disebut fungsi transmisi. Barker
berpandangan, keistimewaan bahasa sebagai transmisi informasi yang lintas
waktu, dengan menghubungkan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang,
memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita. Tanpa bahasa kita tidak
mungkin bertukar informasi, kita tidak mungkin menghadirkan semua objek dan
tempat untuk kita rujuk dalam komunikasi kita.
Aktivitas Perilaku non-Verbal dalam Komunikasi
Proses-proses verbal merupakan alat utama
untuk pertukaran pikiran dan gagasan, namun proses-proses ini sering dapat
diganti oleh proses-proses nonverbal. Kita mempersepsi manusia tidak hanya
lewat bahasa verbalnya; bagaimana bahasanya (halus, kasar, intelektual, mampu
berbahasa asing dan sebagainya), namun juga melalui perilaku non verbalnya.
Pentingnya perilaku non verbal ini misalnya dilukiskan dalam frase, “bukan apa
yang ia katakan tapi bagaimana ia mengatakannya”. Lewat perilaku non verbalnya,
kita dapat mengetahui suasana emosional seseorang, apakah ia bahagia, bingung
atau sedih.
Menurut Alo Liliweri (1994:139)
komunikasi nonverbal meliputi ekspresi wajah, nada suara, gerakan anggota
tubuh, kontak mata, rancangan ruang, pola-pola perabaan, gerakan ekspresif,
perbedaan budaya dan tindakan-tindakan nonverbal lain yang tidak menggunakan
kata-kata. Dalam proses-proses nonverbal yang relevan dengan komunikasi lintas
budaya, terdapat tiga aspek yang sangat berkaitan: perilaku nonverbal yang
berfungsi sebagai bentuk bahasa diam, konsep waktu, dan pengaturan ruang.
Sebenarnya sangat banyak aktivitas yang
merupakan perilaku non verbal ini, akan tetapi yang berhubungan dengan
komunikasi lintas budaya ini biasanya adalah sentuhan. Sentuhan sebagai bentuk
komunikasi dapat menunjukkan bagaimana komunikasi non verbal merupakan suatu
produk budaya. Di Jerman kaum wanita seperti juga kaum pria biasa berjabatan
tangan dalam pergaulan sosial; di Amerika Serikat kaum wanita jarang berjabatan
tangan. Di Muangthai, orang-orang tidak bersentuhan (berpegangan tangan dengan
lawan jenis) di tempat umum, dan memegang kepala seseorang merupakan suatu
pelanggaran sosial.
Contoh lain adalah kontak mata. Di Amerika
Serikat orang dianjurkan untuk mengadakan kontak mata ketika berkomunikasi. Di
Jepang kontak mata seringkali tidak penting. Dan beberapa suku Indian Amerika
mengajari anak-anak mereka bahwa kontak mata dengan orang yang lebih tua
merupakan tanda kekurangsopanan. Seorang guru sekolah kulit putih di suatu
pemukiman suku Indian tidak menyadari hal ini dan ia mengira bahwa
murid-muridnya tidak berminat bersekolah karena murid-muridnya tersebut tidak
pernah melihat kepadanya.
Sebagai suatau komponen budaya, ekspresi non
verbal mempunyai banyak persamaan dengan bahasa. Keduanya merupakan sistem
penyandian yang dipelajari dan diwariskan sebagai bagian pengalaman budaya.
Lambang-lambang non verbal dan respon-respon yang ditimbulkan lambang-lambang
tersebut merupakan bagian dari pengalaman budaya apa yang diwariskan dari suatu
generasi ke generasi lainnya. Setiap lambang memiliki makna karena orang
mempunyai pengalaman lalu tentang lambang tersebut. Budaya mempengaruhi dan
mengarahkan pengalaman-pengalaman itu, dan oleh karenanya budaya juga
mempengaruhi dan mengarahkan kita: bagaiman kita mengirim, menerima, dan
merspon lambang-lambang non verbal tersebut.
Sebagaimana aspek verbal, komunikasi
nonverbal juga tergantung atau ditentukan oleh kebudayaan, yaitu: kebudayaan
menentukan perilaku-perilaku nonverbal yang mewakili atau melambangkan
pemikiran, perasaan, keadaan tertentu dari komunikator dan kebudayaan
menentukan kapan waktu yang tepat atau layak untuk mengkomunikasikan pemikiran,
perasaan, keadaan internal. Jadi, walaupun perilaku-perilaku yang
memperlihatkan emosi ini banyak yang bersifat universal, tetapi ada
perbedaan-perbedaan kebudayaan dalam menentukan apa, oleh siapa dan dimana
emosi-emosi itu dapat diperlihatkan (Samovar, Porter dan Mc. Daniel, 2007:201)
Budaya dinyatakan dalam gaya
interaksi verbal dan nonverbal, misalnya melalui pepatah dan ungkapan, pranata
sosial, upacara, ceritera, agama, bahkan politik. Maka kekuatan komunikasi
ternyata tidak cukup sekedar mengirimkan atau mengalihkan pesan. Dukungan
nonverbal mempunyai kemampuan untuk melengkapi kekurangan dalam komunikasi
verbal.
REFERENSI
Aziz, Moh. Ali. Ilmu Dakwah. Ed.
Rev. Cet. 6. Jakarta: Kencana. 2004.
Liliweri, Alo. Komunikasi Verbal
dan Nonverbal. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. 1994.
Liliweri, Alo. Dasar-dasar
Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2004.
Mulyana, Deddy. Komunikasi Antar
Budaya. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2005.
Mulyana, Deddy. Komunikasi Efektif: Suatu Pendekatan
Lintas Budaya. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2005.
Munawwir, Ahmad Warson. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia
Terlengkap. Edisi Ke-2, Surabaya: Pustaka Progresif. 1997.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar