Minggu, 09 Mei 2021

Dakwah Dalam Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya

ISLAM NUSANTARA SEBAGAI BAGIAN DARI STRATEGI

KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

Oleh : Alfi Nurul Faridah

PENDAHULUAN

Kebudayaan adalah usaha manusia untuk memahami diri sendiri dan mengatasi persoalan melalui kreasi akal budi dan penggunaan simbol-simbol yang ada dalam agama, bahasa, seni, sejarah dan ilmu pengetahuan. Hampir semua tindakan manusia adalah kebudayaan dan seluruh tindakan manusia adalah tindakan naluri atau beberapa yang bersifat refleks. Salah satu unsur kebudayaan adalah agama termasuk Islam. Agama Islam, selain sebagai wahyu Tuhan juga merupakan hasil cipta, rasa dan karsa di mana Islam hadir, termasuk kehadirannya di Nusantara. Sehingga agama dan budaya sesuatu yag tidak dapat dipisahkan, termasuk Islam dan budaya Nusantara.

Istilah Nusantara digunakan karena kata itulah yang paling tepat untuk menggambarkan Indonesia secara kultural. Sedangkan Indonesia berasal dari kata Indus yang berarti India dan nesos dalam bahasa Yunani Kuno yang berarti pulau. Budaya dan agama sebelum Islam masuk sangat mempengaruhi corak Islam di Nusantara, budaya tersebut juga sangat mempengaruhi metode dakwah Islam. Masuknya Islam ke Nusantara oleh para pedagang dari Timur Tengah sekaligus menyampaikan dakwah Islam kepada masyarakat setempat.

PENDEKATAN DAKWAH ISLAM NUSANTARA

Pendekatan dakwah yang mereka lakukan dengan memahami budaya masyarakat setempat, membuat ajaran Islam dengan mudah diterima, damai dan berkembang sampai hari ini bahkan lebih luas lagi budaya khas Nusantara harusnya menjadi pemersatu semua agama yang ada di Nusantara sehingga bisa saja orang Jawa yang beragama Budha, Kristen, Islam justru memiliki kesamaan. Agama boleh berbeda tetapi budaya menjadi pengikat di antara kita.

Menjadi persoalan ketika budaya Nusantara sebagai identitas diri digantikan dengan suatu budaya asing yang dikemas dengan agama. Perubahan sosial, kemajuan teknologi komunikasi mempengaruhi masyarakat yang dengan mudah dapat mengakses apapun termasuk nilai-nilai budaya lain sehingga budaya asli Nusantara bisa saja tergeser oleh budaya lain atas nama agama.

Akulturasi pada Islam di Nusantara juga dapat dilihat, salah satunya pada gaya arsitektur Masjid menara kudus yang merupakan perpaduan antara budaya Islam dan budaya Hindu. Di Indonesia, Masjid merupakan salah satu symbol penting dalam penyebaran ajaran Islam (Dakwah Islam). Berdirinya masjid di berbagai wilayah di Indonesia menginsyaratkan bentuk ekspresi kesalehan masyarakat pada daerah tertentu.[1]

Kedatangan Islam di Nusantara berlangsung secara damai dan sangat cepat beradaptasi dengan budaya Nusantara, tidak ada benturan dengan budaya setempat. Islam menyerukan kalimat Ilahi kepada seluruh umat Islam untuk berdakwah demi meluruskan pemahaman iman umat terhadap akidah maupun syariat-syariatnya yang termaktub dalam al-Quran : “ Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Imran [3]:104).

Kehadiran Islam semakin menyempurnakan nilai-nilai positif budaya yang ada di Nusantara. Kesempatan untuk berdakwah tentang ajaran egaliter di tengah pemahaman mengenai kasta dalam masyarakat Hindu-Budha ditambah dialog terhadap budaya lokal menjadi kunci keberhasilan dakwah Islam di Nusantara. Ajaran egaliter ini menjadi obat mujarab dari keterasingan dan ketersingkiran dari hirarki sosial dalam agama Hindu-Buddha.

Kedatangan Islam di Nusantara mendorong perubahan besar pada masyarakat Indonesia dalam sejumlah aspek seperti:[2]

1.   Ajaran tentang Tauhid atau keesaan Tuhan di tengah kepercayaan yang melakukan penyembahan ilah-ilah atau dewa-dewa.

2.   Manusia di hadapan Allah adalah sama dan taqwa kepada Allah yang menjadikan manusia lebih mulia dari yang lainnya.

3.    Kehidupan manusia dalam masyarakat terikat dalam kesatuan dan persatuan yang terbagi-bagi yang terbagi-bagi menurut susunan kemasyarakatan.

4.  Kehidupan bermasyarakat diatur oleh aturan-aturan yang dibuat secara bermusyawarah sesuai dengan kehendak bersama

5.      Nikmat Allah yang tertuang di langit, bumi, dan di antara keduanya harus dinikmati secara merata.

Islam Nusantara ini merefleksikan pemikiran, pemahaman, dan pengamalan Islam yang moderat, inklusif, toleran, cinta damai, menyejukkan, mengayomi dan menghargai keberagaman (kebinekaan) sehingga keberadaan Islam Nusantara tersebut sebagai antitesis terhadap tindakan-tindakan radikal yang mengatasnamakan Islam.[3]

NU sebagai lembaga Organisasi Islam di Indonesia mempraktekkan Islam Nusantara berkeinginan “mengekspor”nya ke berbagai belahan di dunia. Ini sebagaimana diungkapkan Imam Bukhori dan Musthofa Bisri, akhir-akhir ini kecederungan dunia mulai melirik model keberagamaan Islam Nusantara. (nu.or.id). Ini menunjukkan keinginan mendakwahkan Islam Nusantara ke skala global bukan hanya datang dari internal NU, melainkan tokoh-tokoh Dunia.

Islam Nusantara merupakan ajaran agama yang terdapat dalam Alquran dan Hadits yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad yang diikuti oleh penduduk asli Nusantara (Indonesia), atau orang yang berdomisili di dalam nya. Namun jika dikaitkan dengan pandangan setiap muslim atau organisasi Islam tertentu, seperti NU, konsep Islam Nusantara akan menjadi kompleks. Hal ini terlihat ketika NU menjadikan Muktamar ke-33 di Jombang untuk meluncurkan tema Islam Nusantara secara resmi, yakni “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan dunia”, begitu terlihat para tokoh di dalamnya memiliki konsep dan perspektif yang berbedabeda.

Islam Nusantara ala NU merupakan bentuk respon terhadap globalisasi. Menurut Najib Burhani, sebagaimana dikutip oleh Akhmad Sahal, Islam Nusantara yang dipahami sebagai manifestasi dari sikap menghadapi globalisasi tersebut dapat digambarkan dengan istilah “langgam nya Nusantara, tapi isinya Islam. Bajunya Indonesia tapi badannya Islam”.

Islam mengalami pertumbuhan yang signifikan setelah pada kedatangan Walisongo, Islam di Nusantara berkembang pesat hingga menjadi agama yang dianut sebagian besar penduduk pribumi. Apalagi dalam catatan historiografi, kehadiran Walisongo diasumsikan sebagai tokoh waliyullah sekaligus tokoh waliyul amri, yaitu sebagai orang-orang yang dekat dengan Allah yang terpelihara dari kemaksiatan (waliyul lah), dan juga sebagai orang-orang yang memegang kekuasaan atas hukum kaum muslimin, pemimpin masyarakat, yang berwenang menentukan dan memutuskan urusan masyarakat, baik dalam bidang kedunia wi an maupun urusan keagamaan (waliyul amri).[4]

Pelembagaan nilai budaya Islam di Indonesia memeperlihatkan secara jelas bahwa banyaknya jumlah pemeluk agama Islam dan beragamnya budaya yang ada di Indoensia memposisikan Indonesia menjadi Negara yang muktikultural. Pelembagaan nilai-nilai Islam juga amat kuat membentuk sistem pengatahuan dan intelektual umat, adat istiadat dan sistem kepercayaan, budaya bangsa, sistem ekonomi, hingga pada pembentukan perilaku Muslim di Indonesia. Kebudayaan Islam mampu menjadi dasar kekuatan organisasi Islam yang ada di Indonesia di era saat ini. Budaya dan agama yang berjalan beriringan budaya mengikuti ritme irama agama yang ada di Indonesia.[5]

 

REFERENSI

Ahmad Yadi, Komunikasi dan Kebudayaan Islam di Indonesia, Kalijaga Journal of Communication, Vol. 2, No. 1, 2020: 47-60

 

Alfriyani Pongpindan, Islam Khas Indonesia: Metodologi Dakwah Islam Nusantara, Jurnal Lentera, Vol. III, No. 2, Deseber 2019, diakses pada 7 Mei 2021.

 

Mujamil Qomar, ISLAM NUSANTARA: Sebuah Alternatif Model Pemikiran, Pemahaman, dan Pengamalan Islam, Jurnal el Harakah, Vol.17 No.2 Tahun 2015, diakses pada 7 Mei 2021

 

Taufik Bilfagih, ISLAM NUSANTARA; STRATEGI KEBUDAYAAN NU DI TENGAH TANTANGAN GLOBAL, JURNAL AQLAM -- Journal of Islam and Plurality, Volume 2, Nomor 1, Desember 2016, diakses pada 7 Mei 2021.

 

 

 



[1] Alfriyani Pongpindan, Islam Khas Indonesia: Metodologi Dakwah Islam Nusantara, Jurnal Lentera, Vol. III, No. 2, Deseber 2019, diakses pada 7 Mei 2021.

[2] Ibid.

[3] Mujamil Qomar, ISLAM NUSANTARA: Sebuah Alternatif Model Pemikiran, Pemahaman, dan Pengamalan Islam, Jurnal el Harakah, Vol.17 No.2 Tahun 2015, diakses pada 7 Mei 2021

[4] Taufik Bilfagih, ISLAM NUSANTARA; STRATEGI KEBUDAYAAN NU DI TENGAH TANTANGAN GLOBAL, JURNAL AQLAM -- Journal of Islam and Plurality, Volume 2, Nomor 1, Desember 2016, diakses pada 7 Mei 2021.

[5] Ahmad Yadi, Komunikasi dan Kebudayaan Islam di Indonesia, Kalijaga Journal of Communication, Vol. 2, No. 1, 2020: 47-60


1 komentar:

MINI BOOK DAKWAH MULTIKULTURAL & KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

TUGAS UAS MINI BOOK ALFI NURUL FARIDAH NIM B71219058