Hambatan Komunikasi Lintas Budaya
Dalam Dakwah Multikultural Modern
Oleh : Alfi Nurul Faridah
Prodi
Komunikasi dan Penyiaran Islam
Fakultas
Dakwah dan Komunikasi
UIN
Sunan Ampel Surabaya
PENDAHULUAN
Realitas
sosial dalam komunikasi lintas budaya yang menunjukkan bahwa proses interaksi
tidak hanya melibatkan aktifitas perilaku, tetapi juga aktifitas psikologis
setiap individu yang terlibat. Oleh karena itu interaksi juga secara aktif
melibatkan fungsi-fungsi psikologis seseorang baik dalam kaitannya dengan orang
lain maupun dalam intern dirinya sendiri. Misalnya ketika seseorang sedang
berinteraksi dengan orang lain dalam suatu komunitas baru masing-masing akan
melakukan persepsi secara aktif, baik tentang orang lain maupun tentang dirinya
sendiri. Bersamaan dengan proses interaksi itu, ia sesungguhnya telah ikut
secara aktif mengkonstruksi lingkungannya. Presepsi juga merupakan salah satu
bentuk hambatan dalam komunikasi dimana semua manusia tidak mungkin memiliki
presepsi yang sama antara satu dengan yang lain. Yang menimbulkan pergbedaan
pendapat. Selain presepsi tentu masih banyak hambatan lain dalam komunikasi
lintas budaya. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas beberapa hambatan
dalam komunikasi lintas budaya serta cara untuk meminimalisir hambatan
tersebut.
PEMBAHASAN
A. HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Dalam
bukunya Intercultural Business Communication, Chaney dan Martin (2004)
mengungkapkan bahwa: hambatan komunikasi atau communication barrier
adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang untuk terjadinya komunikasi yang
efektif. Perbedaan budaya sendiri merupakan salah satu faktor penghambat dalam
komunikasi antar budaya maupun lintas budaya.[1]
Hambatan
tersebut tentu saja dapat muncul dalam setiap bentuk atau konteks komunikasi,
termasuk salah satunya komunikasi lintas budaya. Hal ini dapat disebabkan
karena kebudayaan menyediakan cara-cara berpikir bagi manusia; cara melihat,
mendengar, dan menerjemahkan dunia sehingga satu kata dapat dimaknai berbeda
oleh orang-orang yang berbeda kebudayaan, bahkan meski mereka berbicara dalam
bahasa yang sama. Ketika bahasa berbeda, dan penerjemahan harus digunakan, maka
potensi kesalahpahaman pun meningkat. Oleh karenanya, komunikasi efektif di
antara orang-orang yang berbeda kebudayaan menjadi salah satu perkara yang
cukup menantang.
Adapun faktor hambatan komunikasi antar budaya yang sering terjadi sebagai
berikut:[2]
1. Fisik (Physical). Hambatan komunikasi ini berasal dari
hambatan waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan juga media fisik.
2. Budaya (Cultural). Hambatan ini berasal dari etnik yang
berbeda, agama, dan juga perbedaan sosial yang ada antara budaya yang satu
dengan yang lainnya.
3. Persepsi (Perceptual). Jenis hambatan ini muncul dikarenakan
setiap orang memiliki persepsi (sudut pandang) yang berbeda-beda mengenai suatu
hal sehingga setiap budaya akan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda untuk
mengartika sesuatu.
4. Motivasi (Motivational). Habatan ini berkitan dengan tingkat
motivasi dari pendengar, maksudnya apakah pendengar yang menerima pesan ingin
menerima pesan tersebut atau apakah pendengar tidak mau menerimanya.
5. Pengalaman (Experiental). Suatu jenis hambatan yang terjadi
karena setiap individu tidak memiliki pengalaman hidup yang sma sehingga setiap
individu mempunyai persepsi dan konsep yang berbeda-beda dalam meliahat
sesuatu.
6. Emosi (Emotional). Hal ini berkaitan dengan emosi atau
perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka
hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.
7. Bahasa (Linguistic). Hambatan komunikasi akan terjadi apabila
pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receive) menggunakan bahasa
yang berbeda atau penggunaan kata-kata yang tidak dimengerti oleh penerima
pesan.
8. Non-Verbal. Komunikasi yang tidak berbentuk kata-kata tetapi dapat
menjadi hambatan komunikasi. Ekspresi wajah cukup menentukan ketika orang mau
berbicara dengan orang lain. Ketika seseorang sedan dalam keadaan marah maka
ekspresi akan menghalangi orang lain berbicara kepadanya.
9. Kompetisi (Competition). Hambatan terjadi ketika penerima
pesan sedang melakukan kegiatan lain sembil mendengar. Seseorang yang sedang
bermain catur sambil menerima telefon maka pemain catur dalam mendengarkan
pesan dari penelfon tidak akan maksimal.
Selain 9
hambatan tersebut, masih ada tiga penyebab yang mengakibatkan transformasi komunikasi
lintas budaya atau multikultural terhalangi, yaitu:
1. Prasangka.
Sikap didasarkan pada kesalahan generalisasi yang tidak luwes yang
diekspresikan lewat perasaan. Sikap yang cenderung negative atas suatu kelompok
tertentu dengan tanpa alasan dan pengetahuan atas sesuatu sebelumnya. Prasangka
juga terkadang digunakan mengevaluasi sesuatu tanpa adanya argument atau
informasi yang masuk. Efeknya adalah menjadikan orang lain sebagai sasaran,
misalnya mengkambinghitamkan sasaran melalui stereotipe, diskriminasi dan
penciptaan jarak sosial.
2. Stereotip
Stereotip adalah pandangan umum dari suatu kelompok masyarakat
terhadap kelompok masyarakat yang lain. Pandangan umum ini biasanya bersifat
negative (bahasa Jawa salah kaprah). Artinya, bahwa pandangan yang
ditujukan kepada komunitas tertentu, misalnya stereotip untuk orang Semarang
dikenal dengang “gertak Semarang” (menggertak), dan bagi orang Solo distereotipkan
“amuk Solo” (sombong) dan stereotip bagi orang Yogja, “gelembuk Yogja”
(merayu).[3]
Sedangkan menurut Suparlan stereotip adalah generalisasi kesan yang
kita miliki mengenai seseorang terutama karakter psikologis dan kepribadian. Stereotip
juga bisa diartikan sebagai sebuah image atau sikap prasangka dari orang-orang
atau pada kelompok-kelompok yang tidak didasarkan pada observasi dan
pengalaman, melainkan didasarkan pada pendapat-pendapat sebelumnya.
3. Etnosentrisme
Etnosentrisme didefinisikan sebagai kepercayaan pada superioritas
inheren kelompok atau budayanya sendiri; etnosentrisme mungkin disertai rasa
jijik pada orang-orang lain yang tidak sekelompok; etnosentrisme cenderung
memandang rendah orang-orang lain yang tidak sekelompok dan dianggap asing;
etnosentrisme memandang dan mengukur budaya-budaya asing dengan budayanya
sendiri.[4]
B.
CARA MENGATASI HAMBATAN DALAM KOMUNIKASI
Terdapat beberapa cara untuk meminimalisir atau bahkan
menghilangkan hambatan dalam komunikasi lintas budaya atau multicultural,
antara lain adalah dengan memahami keunikan tiap-tiap individu dan
mengembangkan kompetensi antar budaya demi mencapai komunikasi antar budaya
yang efektif. Jandt mengidentifikasikan empat keterampilan sebagai bagian dari
kompetensi antar budaya, yaitu kekuatan personal, kemampuan berkomunikasi,
penyesuaian psikologi dan kesadaran berbudaya.[5]
Secara sederhana dapat dipahami bahwa efektifitas komunikasi
multikultural sangat ditentukan oleh kemampuan komunikator dalam berkomunikasi
dengan berupaya meningkatkan kemampuan diri tentang pengetahuan budaya,
psikologi dan apa saja yang berkaitan dengan status mitra komunikasinya yang
memiliki perbedaan budaya. Disamping juga memperhatikan konteks komunikasinya
secara umum, baik berupa ruang, nilai, norma dan status hubungan dengan mitra
komunkasinya.[6]
Mengutip pendapat para pakar, DeVito (2013) menyarikan beberapa hal
yang dapat menjadi panduan dalam mewujudkan komunikasi yang efektif, yaitu: (1)
mendidik diri sendiri misalnya dengan cara mengembangkan pengetahuan tentang
kebudayaan orang lain dan mengatasi ketakutan atau kecemasan yang muncul, (2)
mengenali perbedaan-perbedaan, yang terdiri dari beberapa hal seperti:
perbedaan antara diri sendiri dengan budaya lain, perbedaan di antara berbagai
kelompok kebudayaan, perbedaan dalam makna (kata), melawan streotip, mengurangi
etnosentrisme, dan menyesuaikan cara berkomunikasi.[7]
KESIMPULAN
Di era modern saat ini kita harus bisa mengfilter budaya yang berbeda
masuk dalam aktifitas kehidupan kita, apakah budaya tersebut baik atau bahkan menimbulkan
efek yang tidak baik. Kita juga harus bisa toleransi dan menghargai budaya
orang lain, meskipun budaya mereka bertentangan. Dalam komunikasi modern
seperti media sosial saat ini, perbedaan presepsi sangat banyak sekali yang
menimbulkan kesalah pahaman dan mengakibatkan perdebatan dan perpecahbelahan
kelompok-kelompok tertentu. Karena itu kita harus bisa memahami karakter dan
mencari tau latar belakang kehidupan, bahkan budaya mereka sebelum kita
menjelek-jelekkan dan menganggap kepercayaan kita yang paling benar.
REFERENSI
Chaney, Lilian,
Martin, Jeanette & Martin. Intercultural Business Communication.
(New Jersey: Pearson Education, Inc, Upper Saddle River, 2004), 11 dalam Jurnal
E-Komunikasi, ed. Alvin Sanjaya, (Surabaya, UKP Surabaya, tt), 254
Jandt, Fred.E.
dalam E-Jurnal Universitas Sebelas Maret, ed. Andriana Noro Iswari &
Pawito,. Surakarta; Universitas Sebelas Maret Surakarta, tt.
Liliweri, Allo.
Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: Lkis. 2003.
Moulita, HAMBATAN KOMUNIKASI
ANTARBUDAYA DI KALANGAN MAHASISWA, Jurnal Interaksi, Volume : 2, Nomor : 1,
Edisi Januari 2018
Mulyana, Deddy Dan
Rahmat, Jalaludin. Komunikasi Antar Budaya. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya. 2000.
Purwasito, Andrik.
Komunikasi Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2015.
Uha, Ismail
Nawawi. Komunikasi Lintas Budaya: Teori, Aplikasi dan Kasus Sosial Bisnis
dan Pembanguna. Jakarta Barat: Dwiputra Pustaka Jaya. 2012.
[1] Ismail Nawawi
Uha, Komunikasi Lintas Budaya: Teori, Aplikasi dan Kasus Sosial Bisnis dan
Pembangunan (Jakarta Barat: Dwiputra Pustaka Jaya, 2012), 11-12
[2] Chaney,
Lilian,Martin, Jeanette & Martin. Intercultural Business Communication.
(New Jersey: Pearson Education, Inc, Upper Saddle River, 2004), 11 dalam Jurnal
E-Komunikasi, ed. Alvin Sanjaya, (Surabaya, UKP Surabaya, tt), 254. Diakses pada
10 Juni 2021.
[3] Andrik
Purwasito, Komunikasi Multikultural, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2015), 322.
[4] Deddy Mulyana
Dan Jalaludin Rahmat. Komunikasi Antar Budaya, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2000), 70
[5] Jandt, Fred.E.
dalam E-Jurnal Universitas Sebelas Maret, ed. Andriana Noro Iswari &
Pawito, (Surakarta; Universitas Sebelas Maret Surakarta, tt), 7. Diakses pada
10 Juni 2021
[6] Allo Liliweri,
Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya, (Yogyakarta: Lkis, 2003),
224
[7] Moulita,
HAMBATAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DI KALANGAN MAHASISWA, Jurnal Interaksi, Volume
: 2, Nomor : 1, Edisi Januari 2018

Masyaallah bagus seekali artikelnya diikuti dengan refrensi yang kredibelitas. lanjutkan nak!
BalasHapusheheh terimakasih bun:)
Hapus